Danur 2: Maddah, Teror Setan Pelakor


Artikel ini sebelumnya sudah saya posting di  
tz.ucweb.com/3_5elnf

Dunia Maya saat ini tengah heboh dengan isu transgender yang dilakukan oleh artis inisial LL. Banyak sekali artikel, tayangan TV, mapun video YouTube yang beredar. Namun, sebelumnya ada isu yang sama hangatnya, sama gatalnya untuk dibahas, apalagi kalo bukan istilah "pelakor".
Pelakor sangat dekat dengan kehidupan rumah tangga masa kini. Mungkin salah satu dari kita adalah korban, bahkan pelakunya, atau bisa juga dua-duanya. Saking dekatnya, bukan cuma manusia aja loh yang bisa jadi pelakor, setan juga bisa. Iya serius! Contoh setan pelakor yang kayak di film kedua yang diangkat dari Novel karya Risa Saraswati ini, Danur 2: Maddah. Dan Karena katanya ini kisah nyata, jadi para Istri harus lebih berhati-hati dengan suaminya, bisa jadi sang suami yang kelihatannya gak pernah dekat dengan wanita lain, malah digoda setan pelakor!
Jadi, kenapa ya ada setan pelakor? Oke baca terus review ini.
Kalo diingat, film pertama Danur, yang punya embel-embel I Can See Ghost itu bukanlah film horor yang patut diperhitungkan. Hanya saya dengan drama dibelakang layar dan strategi pemasaran yang tepat, film ini tembus jutaan penonton. Tentu saja, itu modal yang cukup menjanjikan untuk dibuat sekuelnya. Apalagi film horor buatan Anak bangsa tengah meningkat dari segi kualitas serta ambisi orang Indonesia untuk menonton horror.
Nah, berita bagusnya lagi sekual yang dibintangi Prilly Laticonsina dan Sophie Latjuba ini gak jelek-jelek amat, bahkan lebih bagus dari pendahulunya. Setannya lebih serem. Ceritanya dikembangkan dengan baik. Durasinya pun pas.
Berita buruknya film ini punya kelemahan. Berikut beberapa kekurangannya.
Oke, film ini lemah dibagian awal. Kayak film horor pada umumnya. Tidak membangun karakter dan cerita yang kuat sehingga penonton enggan peduli dengan apa yang akan disampai film itu selanjutnya. Untungnya, film ini mulai asyik dan menunjukan kepantasaanya menjelang pertengahan cerita. Jadi serem, bikin kita peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ingin sebenernya membandingkan dengan film lain, tapi memang ada beberapa adegan dalam film ini yang kelihatannya mirip dengan pengabdi setan karya Joko Anwar yang booming tahun lalu. Semacam sudah pernah melihat keindahan sebelumnya, jadi berkurang Indah jika melihat kedua kalinya.
Satu lagi hal mengganggu dalam film ini. Sinematografinya. Ini kok kameranya sering banget ambil angel terbalik, miring, sorong kanan, sorong kiri. Apa maksudnya coba? Mengganggu Dan bikin pusing (kata temen).
Soal setan yang saya sebut pelakor itu, tidak saya bahas disini. Rasanya mengandung spoiler yang terlalu besar. Kalo memang penasaran, bisa tontonanny sendiri!

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri: Kisah 3 Reklame Pembawa Onar

Artikel ini sebelumnya sudah saya posting di tz.ucweb.com/1_4O662

Jarang sekali orang mendengar kota Ebbing, Missouri sebelum film yang dinahkodai Martin McDonagh membawa pulang piala Golden Globes sebagai film drama terbaik tahun ini. Sampai sekarang pun saya belum tahu, apakah kota itu nyata atau hanya fiktif. Ketika saya mencoba mengetik namanya, yang muncul bukan lokasi melainkan hanyalah film tersebut.
Terlepas kota itu ada atau hanya fiktif, Three Billboards (saya singkat saja) berhasil membuat saya pribadi penasaran dengan kota itu. Bukan karena gambaran kota yang ditampilkan menawan, bukan juga karena sinematografinya, namun kisah tentang tiga reklame yang ada di kota itulah yang begitu membekas dalam pikiran.
Adegan film ini dimulai dengan cuplikan pemandangan dari kota Ebbing diiringi lagu seriosa menyedihkan, yang memberitahu penonton bahwa film ini cukup kelam dan depresi. Lalu muncul Mildred Hayes (Frances McDormand), seorang ibu yang sudah tujuh bulan kehilangan anak gadisnya. Anaknya tersebut diperkosa sampai meninggal dan sekian lama belum juga ditemukan pelakunya. Karena kesal, sang ibu berinisiatif membuat tulisan pada tiga reklame yang ia lihat di perbatasan kota Ebbing. Kebetulan Reklame tersebut sudah lama tak ada yang memasang iklan dikarena jalanan yang sepi.
Tidak ingin memuat banyak spoiler, pada akhirnya ide cerdas Reklame tersebut berhasil menarik banyak perhatian. Raped while dying (Diperkosa saat sekarat), And still no arrest (Belum ditahan), serta How come Chief Willoughby? (Kok bisa begitu, Chief Willoughby?) - begitulah isi tiga reklamenya. Berhasil diliput dalam berita tv, membuat polisi marah, dan meresahkan masyarakat. Ini hanyalah permulaan.
Cerita bergulir dengan banyaknya orang yang membenci Ibu yang kini hanya memiliki seorang anak laki-laki. Banyak mengecamnya, melapornya kepolisi, dan marah atas perbuatannya. Hal tersebut dipicu karena Chief Willoughby terkena kanker pankreas, dan umurnya tidak lama lagi.
Gangguan/ ancaman tak hanya dipikul orang Mildred seorang. Rekan kerja, anaknya, pemilik biro iklan, serta pemasang reklame pun tak luput dari ancaman dan cacian. Namun semua itu tak membuat Mildred getar sedikitpun. McDormand berhasil membawakan karakter Mildred Hayes tanpa cela sedikitpun. Menjadi wanita tegar dan tanggung yang dilihat banyak orang, padahal rapuh karena keretakan rumah tangga yang dialaminya.
Permis awal memang cukup sederhana. Namun tak disangka, sang sutradara melebarkan sayap terhadap masing-masing tokoh pendukung yang ada. Para tokoh pendukung itupun memerankan dengan sangat baik dan meyakinkan.
Pertama, Chief Willoughby. Sang kepala polisi yang dianggap bertanggung jawab atas tidak kelarnya kasus kematian putri Mildred. Terlihat sangar dari luar, namun iya merupakan sosok yang penuh cinta terhadap masyarakat terutama keluarganya. Ayah yang baik. Mildred menganggap Willoughby tak peduli terhadap kasus putrinya, bahkan setelah terpasang tiga reklame tadi. Namun sesungguhnya ia sangat peduli terhadap Mildred. Saat ia akhirnya meninggal, ia membayarkan sewa tiga reklame tersebut. Betapa ia sosok yang berhati besar.
Kedua, Dixion. Sang polisi kasar dan tukang pukul. Sifatnya itu akibat kehilangan ayahnya waktu ia kecil. Menyebabkan ia harus kuat hidup hanya dengan ibunya. Menjadi kehilangan arah. Ia merupakan tokoh pendukung yang mencuri perhatian. Awalnya kita akan membenci akan setiap tingkah kasarnya. Namun pada akhirnya, kita akan paham kalau dirinya hanya butuh tuntunan, butuh orang yang memberi tahu mana yang baik untuk dilakukan.
Lalu ada Red Welby. Sang pemilik biro iklan yang rendah hati. Sering menjadi sasaran kemarahan Dixion. Ada satu adegan dimana dirinya dilempar keluar jendela dan dipukul sampai babak belur oleh Dixion. Namun ada adegan pula dimana ia masih berbaik hati pada dixion yang sedang sekarat. Salah satu adegan menyentuh dalam film ini.
Konfilk antara masing-masing tokoh memiliki hubungan kuat dengan tiga Reklame sebagai benang merahnya. Konflik film ini termasuk rumit dan berhasil dikembangkan baik, dan diakhiri dengan memuaskan.
Film ini mengajarkan kita bagaimana harus berempati akan sesama. Bahwa semua manusia memiliki konfliknya masing-masing. Bukan hanya kita orang paling menderita di dunia ini.
Ending... walupun sudah berdurasi cukup panjang, namun kita masih ingin durasi yang lebih lagi. Karena film ini benar-benar menarik untuk diikuti.
Dan apakah pelaku pemerkosaan itu ditemukan? Kalo penasaran, saya sarankan untuk menonton filmnya.

Darkest Hour, Satu Lagi Film Dalam Universe Dunkirk

Artikel ini sebelumnya sudah saya posting di tz.ucweb.com/1_4JbgV
Masih ingat mahakarya Christopher Nolan tahun lalu? Semua tahu, Dunkirk jawabannya. Film yang bercerita tentang tragedi Dunkirk pada masa Perang Dunia II itu menjadi film perang paling unik yang pernah dibuat. Jarang sebuah cerita perang mengambil cerita dari tokoh kebanyakan (orang biasa yang hanya jadi latar di film lainnya, dalam hal ini tentara biasa). Tapi Nolan mampu membuatnya jadi sangat menakjubkan. Sebuah perang dalam harmoni; dengan alur, sinematografi, dan musik yang luar biasa. Dan tentu saja, dengan aktor yang enak dipandang mata, sebut saja Tom Hardy dan Harry Style.
Lalu apa keistimewaan Darkest Hour? Apa hubungannya dengan Dunkirk?
Sebelum bicara keistimewaan film karya Joe Wright, kita ulas dulu sedikit plotnya. Jadi film ini juga mengambil setting pada masa sekitar Perang Dunkirk. Sebenarnya banyak juga film yang mengambil latar dan cerita seputar tragedi ratusan tentara Inggris dan Perancis yang terkepung Nazi di perairan Dunkirk itu. Contohnya Imitation Game, The King's Speech, Opertaion Dunkirk, dan banyak lainnya. Walaupun dalam timeline sama, masing-masing film memiliki ruang dan penokohan yang berbeda. Misal Dunkirk karya Nolan, berlatar medan perang yang mencengkam; tentara yang sudah putus asa dan berharap diselamatkan.
Lain halnya, Darkest Hour berkutat pada Pemerintah Inggris dan bagaimana mereka mengeluarkan kebijakan saat perang Dunkirk terjadi. Cerita berpusat pada Perdana Menteri saat itu, Winston Churchill yang diperankan Gary Oldman. Beliau merupakan sosok paruh baya yang galak dan rada keras kepala di hadapan banyak orang (bawahannya), namun takut terhadap istri. Oldman berhasil dengan cemerlang memerankannya.
Mungkin sama halnya seperti saya waktu itu yang rada ragu ingin menonton film ini atau tidak. Secara, hampir semua jajaran pemainnya sudah lanjut usia. Bahkan sang tokoh utamanya pun sudah tua, buncit, rambutnya ubanan, dan terlihat rapuh. Namun semua itu akan terbantahkan. Salah satu alasan kenapa nekad menonton karena film tersebut masuk nominasi film terbaik Oscars, beserta Pemeran Utama Prianya. Kok bisa? Jadi, kita akan peduli pada si perdana menteri tua itu, bahkan sejak menit pertama dia muncul. Memang, bukan hal yang membuat bahagia melihat Oldman bisa jadi membawa pulang Oscars tahun ini, tapi dia benar-benar harus mendapatkannya atas perannya itu.
Nah, alasan lainnya mengapa nekad menonton, hanya karena ada Lily James. Sang Cinderella itu memainkan peran juru ketik prbadi sang perdana menteri. James sendiri lumayan mendapat dursi banyak. Walau hampir semua adegan emosionalnya bisa dihilangkan, namun tetap saja, semua yang berhubungan dengan James sangat perlu ada. Seolah ia mewakili semua rakyat Inggris yang ada. Harusnya masuk pemeran pembantu wanita terbaik tuh.
Darkest Hour bukan film yang berat-berat aman. Porsinya pas. Banyak adegan yang menyentuh dan mengharukan. Apalagi saat adegan dalam gerbong kereta. Luar biasa! Dan begitu pecah saat endingnya.
Oh iya, Darkest Hour dan Dunkirk memiliki narasi ending yang hampir sama. Apa yang ada dan dibaca dalam Dunkirk adalah pidato sang perdana menteri yang fenomenal itu.
Jadi, mana yang bakal menang film terbaik Oscars tahun ini? Dunkirk atau Darkest Hour?

Maze Runner: The Death Cure , Kisah Yang Belum Tuntas


Artikel ini sebelumnya sudah saya posting di tz.ucweb.com/1_4APD8
Ingin tahu cara mudah untuk mengetahui film itu bagus atau tidak? Salah satunya adalah menonton film dalam keadaan lapar dan jangan makan apapun sepanjang durasi. Jika kita sampai lupa sedang lapar, berarti film tersebut berhasil membuat kita menikmatinya. Dan apabila selama menonton kita terus terngiang akan isi perut yang kosong, berarti film tersebut tidak menarik. Mudah kan?
Oke, langsung saja masuk ke topik yang akan dibahas. Maze Runner: The Death Cure, merupakan pamungkas dari trilogi para pelari labirin. Seharusnya! Tapi kenyataannya dua sekuel film yang diangkat dari novel young-adult berlatar pasca-apokalips ini tidak lagi menceritakan pelari labirin. Dan dari pengamatan penulis, benang merah trilogi ini bukanlah sebuah labirin melainkan Zombie. Seriuosly? Bener serius. Walaupun tak ada keterangan bahwa para manusia yang terkena virus Flare (yang kemudian disebut Crank) lalu kehilangan kesadaran dan bernafsu memakan manusia lainnya - adalah zombie, tapi sebagaimana yang kita tahu, itu merupakan ciri-ciri zombie.
Sebagai penonton yang tidak membaca novelnya, franchise terakhir yang dibintangi Dylan O'Brien ini memupuskan harapan penonton yang ingin melihat adanya Labirin seperti yang diperlihatkan dalam poster diatas. Atau setidaknya misteri tentang labirin yang belum terpecahkan. Kenapa dalam film pertama dulu, para remaja dikurung dalam labirin? Kenapa bukan tembok raksasa, atau penjara, atau pulau terpencil sekalian? Kenapa harus pakai drama para penghuni labirin harus memecahkan misteri labirin untuk keluar, lalu diculik kembali di film kedua? Harusnya kalo hanya sekedar untuk alasan percobaan dan pengamatan, jujur lebih masuk akal ceita yang disuguhkan dalam trilogi Divergent.
Sebenarnya, film ini menghadirkan adegan-adegan intens sepanjang filmnya. Bikin tegang, dan sangat serius. Tapi karena hampir tidak diberi adegan santai, film ini cenderung membosankan. Ending yang penuh emosional pun tak cukup membantu. Boro-boro bikin terurai air mata, yang ada kita merasa "ngapain sih ini film dipanjang- panjangin, 2.5 jam loh!"
Dan sekali lagi, dalam durasi yang sepanjang itu, film ini tidak banyak menjawab dan cenderung memiliki akhir yang tidak tuntas. Gak jelas apa tujuan dari film ini. Mengobati para korban virus Flare kah? Menyelamatkan Min-ho (Ki Hong Lee) dan Teressa (Kaya Scodelario) kah? Atau kabur dari kejaran WCKD? Atau hanya sekedar mencari untung belaka. Hahaha. Semoga gak bikin sekuel lagi.
Kembali ke paragraf pertama, kenapa tadi di counter gak beli makanan?

Insidious: The Last Key, Tidak Berhasil Jadi Horor Yang Menyeramkan


Artikel ini sebelumnya sudah saya posting di tz.ucweb.com/1_3V1gE
Sudah dapat dipastikan, kebanyakan orang yang menonton sekuel Insidious chapter 4 hanya karena terlanjur jatuh cinta dengan dua chapter pertama dari franchise ini. Kita setuju bahwa chapter 3 berhasil membuat penggemar patah hati karena apa yang disajikan jauh dari ekspektasi. Dan, sayang sekali The Last Key masih belum bisa mengobatinya. Walaupun secara keseluruhan, chapter terbaru ini masih lebih mendingan ketimbang chapter sebelumnya.
Buat yang belum tahu, film yang skenarionya masih ditulis oleh Leigh Whannell ini merupakan prekuel yang mengambil setting diantara chapter keempat dan pertama. Meneruskan kisah Elise Rainier (Lin Shaye) bersama dua asistennya. Elise sendiri merupakam sosok cenayang yanh dulu tokoh sampingan dalam dua chapter pertama film ini. Pertanyaannya, mengapa kita harus peduli dengan sosok Elise? Mudah saya jawabnya. Gampangnya, pihak studio masih ingin meraup untung besar dengan bermodalkan budget yang sangat minim, jadi gak lucu kan kalo harus menjadikan dua asisten konyol Elise jadi tokoh utama.
Bisa dikatakan sosok makhluk yang ditampilkan cukup unik. Setan menyeramkan yang memiliki jari berbentuk kunci ini seharusnya menarik. Tapi apa hasilnya? Nihil. Kita dari pertama sudah ter-mindset bahwa harusnya sosok jahat ini harus lebih kuat ketimbang Elise. Tapi yang ada, tak ada rasa takut yang nampak dari Elise sendiri. Jadinya kita seolah tahu, pasti Elise bakal menang. Okelah, ini lebih tepat disebut film kiriminal mungkin daripada horor.
Biarpun banyak kritik mengatakan film ini tidak bagus, tetap saja tiket penanyangan perdana yang masuk slot midnight ini ludes terjual habis. Hal itu menjadikan film ini merajai jatah jam tanyang di Indonesia. Bahkan, ada bioskop yang rela seluruh studionya dalam seminggu hanya menayangkan film yang menjual nama James Wan. Apa yang terjadi dengan selera penonton sekarang?
Tentunya tidak semua bagian dalam film yang disutradarai Adam Robitel tidak bagus. Sebenarnya film ini dibuka dengan adegan Elise kecil yang menjanjikan. Lokasinya pun membawa atmosfer yang menyeramkan. Namun, bagitu bagian flashback ini berakhir, nampaknya film ini sudah mulai kelelahan di awal.
Film ini tidak terdapat credits scene. Jadi bebas buat ninggalin bioskop. Walaupun kita sudah ingin meninggalkan biokop sebelum film berakhir.

Call Me By Your Name, Film dengan Review Positif yang Tidak Tayang di Indonesia




Artikel ini sebelumnya sudah saya posting di tz.ucweb.com/1_2scbx
Sejak film pemenang Oscars tahun lalu, Moonlight tidak tayang di Indonesia, sudah dapat dipastikan Call Me By Your Name akan bernasib sama. Sangat disayangkan, film yang berhasil masuk nominasi Film Terbaik (Drama) dalam Golden Globes tahun ini tentu akan dicekal oleh lembaga sensor negara ini karena mengandung konten LGBT yang masih sangat tabu bagi kebanyakan orang.
Film yang diganjar 98% ulasan Positif oleh Rotten Tomatoes menyajikan cerita yang ringan namun begitu mendalam. Cinta pertama yang dialami oleh Ellio (TimothĂ©e Chalamet) kepada seorang turis bernama Oliver (Armie Hammer) yang tinggal di rumahnya karena urusan akademis, membuat hati kita berbunga-bunga. Romansa dan chemistry yang mereka tampilkan begitu memikat dan meyakinkan. Kita diajak menyelami keindahan dan kecanggungan akan benih cinta terlarang yang tumbuh pada mereka. Benar-benar diceritakan dengan tulus sehingga kita begitu takut akan bagaimana akhir cinta mereka di penghujung film nantinya.

Film yang diangkat dari novel karya André Aciman dengan judul yang sama itu ber-setting di Italia pada musim panas tahun 1983. Mata kita dimanjakan dengan tempat-tempat indah di negara tersebut seolah sedang bernostalgia. Suasana italia yang klasik: mobil jadul, kota yang menawan, pedesaan yang asri, yang sepeda onthel yang selalu dipakai tokohnya. Sepertinya, kita bakal pengen banget berkunjung kesana usai nonton ini Film.
Sufjan Stevens, musisi yang dikenal dengan musik folknya sangat berhasil membawakan lagu soundtrack maupun penata suara dalam film ini. Coba deh dengerin Mistery of Love, dijamin bakal langsung jatuh cinta sama lagunyaDan begitupun dengan dentingan piano yang dimainkan oleh Ellio, cacat yang menawan.

Menurut penulis pribadi, TimothĂ©e Chalamet layak mendapat Oscars untuk Aktor Terbaik tahun ini. Yap, ending film yang begitu membekas di hati takkan berhasil tanpanya, dan tentu saja Vision of Gideon-nya Sufjan ikut mendukungEnding film La La Land mah lewat!
Akhir kata, film ini harusnya ditonton oleh semua orang di muka bumi ini. Titik.

Review: Ayat Ayat Cinta 2, Sebuah Science Fiction





Artikel ini sebelumnya sudah saya posting di tz.ucweb.com/1_2D1Vi
Sebuah sekuel, tentu diharapkan lebih baik atau setidaknya setara dengan film sebelumnya. Namun justru sebaliknya. Banyak sekuel malah lebih buruk dari pendahulunya, bahkan jauh dari harapan penonton. Fakta itulah yang dialami film arahan Guntur Soehardjanto, Ayat-ayat Cinta 2.
Filmnya yang digadang-gadang sebagai The Greatest Love Story, justru menjadi The Strangest Love Story (baca: kisah cinta teraneh). Padahal banyak yang berharap lebih dari sekedar cerita ftv. Netizen menyalahkan penurunan kualitas sekuel ini karena tidak lagi diarahkan sutradara kondang Hanung Bramantyo, emm.. bisa jadi. Atau mungkin juga beberapa karakter dimainkan oleh aktor/aktris yang berbeda?

Ada beberapa hal kurang rasional dalam film yang pemeran utamanya, Fahri masih dibintangi Fedi Nuril. Pertama, karakter Fahri yang begitu digambarkan seperti Nabi, begitu kaya raya, dan juga dermawan. Menurut penulis, ini berlebihan di kehidupan nyata apalagi hidup di Inggris yang notabene biaya hidupnya gila-gilaan. Kedua, walaupun ber-setting di Inggris, hampir semua tokoh dalam film itu fasih berbahasa Indonesia: dari semua Mahasiswa Edinburgh, sampai pegawai toko. Tentu ini sangat menggangu. Toh, film ini sudah dilengkapi subtitle, jadi alangkah baiknya tidak memakai bahasa gado-gado tesebut. Ketiga sebelum hilang pun Aisha sudah bercadar, mengapa suami dan saudaranya sendiri tak bisa mengenalinya? Kenapa? Entahlah. Keempat, beberapa tokoh yang diceritakan sebagai orang asing, diperankan oleh aktor Indonesia. Ya mungkin mahal kalo bayar aktor luar, sudahlah!
Dan terakhir adalah kejanggalan terbesar yang dibuat film ini. Karena scene inilah kritikus membajiri review negatif. Mungkinkah ada transplantasi atau operasi plastik secanggih apa yang ditampilkan film tersebut? Penulis jadi penasaran, apa benar hal ini juga diceritakan dalam Novel karangan Habiburrahman El shirazy yang diadaptasi ke dalam film tersebut? Andai saja, ada yang memberi tahu kalo film ini adalah science fiction, mungkin sedikit dapat menerima. Tapi sayangnya, jelas-jelas film ini bergenre drama.

Sebenarnya masih banyak hal-hal janggal yang ada. Tapi penulis terlalu lelah untuk mendeskripsikannya. Untung saja, film ini tertolong berkat keindahan Edinburgh yang memanjakan mata sepanjang film. Juga, soundtrack yang cukup digarap dengan apik.
Plot film ini juga serba nanggu. Bikin nangis enggak, kocak enggak, menginspirasi enggak, datar banget pokoknya. Penulis sendiri mengharap konflik lebih dari Keira yang diperankan Chelsea Islan, dari hanya sekedar menepati janji: Nikahi Aku Fahri.
Jadi perlukah sebuah sekuel ini? Mungkin tidak.

Jumanji: Welcome To The Jungle, Sekuel Yang Melebihi Ekspektasi

Artikel ini sudah pernah saya posting di tz.ucweb.com/1_2usPh
Kayaknya sudah telat banget buat nulis review dari film ini. Tapi kayaknya emang film itu patut untuk direview. Jadi bagi yang masih ragu untuk menonton, saya mencoba meyakinkan lewat review berikut.
Bagi yang telah menonton Jumanji yang pertama, saya sarankan untuk tidak terlebih dahulu beranggapan bahwa film yang rilis sejak 20 Desember lalu merupakan sebuah kelanjutan. Walaupun film garapan Jake Kasdan (Sex Tape) merupakan sekuel, namun merupakan stand-alone, dalam arti berdiri sendiri tanpa ada sangkut pautnya dari film pertama. Film yang dibintangi Dwayne Johnson dkk ini digarap lebih kekinian, misalnya saja papan jumanji diganti dengan permainan Nintendo.
Film bergenre komedi ini berhasil membuat penonton berduyung-duyung ke bioskop. Menariknya, seperti dilansir liputan6.com film ini laris-manis di pasar Indonesia melebihi di Amerika sana. Bahkan, Dwayne Johnson sendiri dalam sebuah video berterimakasih kepada penonton Indonesia karena mendapat jumlah penonton paling besar dari negara ini.

"Dari jumlah penonton terbanyak di dunia, Indonesia. Terima kasih banyak untuk penonton di Indonesia," kata Dwayne Johnson dalam sebuah video.
"Indonesia sangat mencintai Jumanji, berada di posisi pertama. Di awal minggu penayangannya, Jumanji sudah masuk sebagai film Sony terbesar. Terima kasih untuk Indonesia. Aku mencintai kalian," Dwayne Johnson menambahkan.
Banyak faktor yang membuat film ini begitu dinikmati, terutama dari segi cerita. Faktor komedi jadi hal terpenting falam film ini. Dimana ada empat bersahabat yang masuk ke dimensi video game, dan keempatnya mendapat karakter yang jauh berbeda dari kehidupan nyata mereka. Si culun yang berubah jadi pria kekar yang jagoan, si cewe kuper jadi cewe ceksi yang menggoda, si olahragawan yang kesal karena medapat karakter pria lamban, dan cewe sosialita yang shock karena berubah jadi sosok pria buncit. Kecanggungan mereka beradaptasi dengan karakternya menjadi daya tarik yang kuat.

Jack Black sendiri jadi pemain yang paling mengundang banyak tawa. Bagaimana kelucuan dirinya yang berjiwa perempuan harus melihat Mr. P untuk pertama kalinya. Joke saat dirinya belajar buang air kencing membuat seisi bioskop tergelak tawa.
Jadi, gak akan nyesel jika kita menonton film ini. Dan sama sekali tak perlu khawatir karena tidak menonton film pertama. Sungguh ini melebihi ekspektasi.

Review Film "The Greatest Showman" - Sebuah Musikal Memukau


Masih ingat film besutan Christopher Nolan yang berjudul The Prestige? Kalo dalam film tersebut Hugh Jackman berperan menjadi Pesulap yang murung dan ambisius, dalam film The Greatest Showman Jackman berperan lebih ceria dan berwarna sebagai pemain sirkus ambisius. Dalam film ini kita dapat melihat bintang Logan menyanyi, menari, bahkan menaiki gajah!


Dibuka dengan pertunjukan sirkus yang epik, tentunya menjadi daya tarik tersendiri. Adegan pembuka tersebut terbilang lebih menarik ketimbang dalam live-action Beauty and The Beast, namun masih dibawah La La Land (yang di jalan layang itu loh!). Ngomong-ngomong penulis lirik dalam tiap lagu dalam film yang juga dibintangi Zac Efron dan Zendaya merupakan orang yang sama dalam La La Land. Tapi entah kenapa, walaupun musik dan lagu dalam film ini terbilang epik, namun begitu saja terlupakan setelah keluar biokop. Beda dengan City of Stars, Auditon, dsb.


Tapi tenang, film ini menawarkan banyak atraksi sirkus yang menawan dan tidak akan membuat bosan. Kita juga disuguhi drama keluarga yang mengharukan, seperti untuk siapa kesuksesan kita: keluarga atau pengakuan publik? Dan bagian paling penulis rasa terbaik adalah saat Zac Efron dan Zendaya menyanyi membawakan lagu Rewrite The Stas dan menari bergelantungan di tali sirkus, sumpah bangus banget!!

Anyway, film ini wajib ditonton bahkan untuk yang tidak suka drama musikal sekalipun. Kalo ada yang bertanya bagusan mana dengan La La Land, tau sendiri lah jawabannya.

Cerpen: Yang Tak Terjawab


(Karya: Ma'arif Suryadi)

Bukan sebuah kebetulan aku dan beberapa orang mengelilingi meja panjang di cafĂ© ini. Kami bersembilan adalah mahasiswa semester pertama yang bergabung dalam  anggota baru klub pecinta sastra. Dan ada satu pemandu senior kami di salah satu ujung meja. Malam ini adalah pertemuan kami yang ketiga. Sesuai yang aku ingat, pertemuan kali ini akan membahas tentang seseorang yang selalu kami  teladani, entah itu pahlawan, tokoh inspirasi, keluarga, artis, atau siapapun.

Sang pemandu menjelaskan pada kami. Nantinya kami akan di panggil satu-satu untuk berdiri membacakan atau menceritakan tokoh yang telah kami persiapkan sebelumnya. Dan sialnya, aku belum mempersiapkan apa-apa. Ditertawakan? Aku sudah mengira, dan aku sudah sering ditertawakan. Mungkin akulah satu di antara sembilan dari kami, yang tak dianggap keberadaannya. Tapi itu tak masalah, aku lebih memilih diam dan mendengarkan cerita atau apapun yang telah dan akan diceritakan. Dan aku berfikir, kenapa aku harus bertanya jika dengan diam saja aku bisa tau banyak hal?

Satu jam berlalu, satu persatu dari kami membacakan tokoh kebanggan kami masing-masing. Semua tokoh yang mereka sampaikan terdengar menarik. Mulai dari Thomas Alfa Edison, R.A. Kartini, Ir. Soekarno, Einstein, John F. Kennedy. Dan dua tokoh yang disampaikan setelahnya adalah yang membuat ruangan menjadi terasa  panas. Dua orang bernama Rifa’I dan Carlos yang terlihat tidak bersahabat mengunggulkan tokohnya masing-masing. Rifa’I dengan Nabi Muhammad dan Carlos dengan Yesus Kristus.

Bukan hanya terasa panas, kedua orang itu membuat suasana mencengkam. Mereka seolah menjadikan dirinyalah yang paling benar dan yang lain salah. Memang tokoh yang Rifa’I dan Carlos adalah dua tokoh yang sangat besar. Namun entah kenapa aku merasa mereka berdua tidak tulus menyampaikan. Mereka hanya ingin memperlihatkan kebesaran tokohnya masing-masing. Dan menurutku itu salah. Entahlah, aku memang tidak tahu. Tapi aku sangat tahu tentang sebuah ketulusan.

Sampailah pada orang kedelapan yang menyampaikan tokohnya. Seorang gadis cantik yang sejak pertama bertemu selalu aku perhatikan.

“Begitulah J.K Rowling. Seorang penulis pertama di dunia yang menjadi milyader atas keahlian menulisnya. Walaupun banyak kritusku yang menilai negatif atas karya Novel Harry Potternya karena dianggap karya sastra yang tidak mempedulikan keindahan kalimat, namun bagiku dialah pahlawanku. Aku banyak belajar darinya. Dan menurutku, imajinasi adalah segala-galanya. Apa ada pertanyaan?”

Masing-masing dari kami saling menatap, tidak ada yang kelihatannya ingin bertanya.

Saatnya giliranku. Akulah orang terakhir yang akan membacakan tokohku. Aku berdiri dari dudukkku dengan ragu-ragu. Entah kenapa, semua orang menatapku layaknya aku orang yang begitu bodoh.

“Tokohku,” aku memulainya,”Namanya Nobby,”

Semuanya menatapku dengan aneh, dan beberapa menertawakanku. Namun aku tak peduli, aku terus meneruskannya.

“Dia adalah seorang anak laki-laki yang tidak diketahui darimana ia berasal. Kira-kira saat ia berumur 4 tahun, ia ditemukan oleh Pamanku, Rama. Dia seorang kondektur Bus Trans Jakarta. Di sebuah Mall ibukota, dari sanalah semua cerita berasal…”



14 tahun yang lalu di sebuah Mall yang sangat ramai. Seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur  4 tahun terlihat kebingugan. Iya tadinya pergi bersama pengasuhnya, namun ia tak ingat bagaimana ia bisa terpisah dari pengasuhnya tersebut. Ia telah berkeliling ke seluruh Mall, namun ia tak menemukan pengasuhnya. Kemudiania berfikir, mungkin pengasuhnya ada di luar gedung.

Ia keluar dari Mall tersebut. Satu yang menarik, ia memeluk boneka Doraemon yang terlihat masih baru. Ia pun menyusuri jalanan, berharap ia menemukan orang yang ia cari. Satu jama, dua jam, tiga jam telah berlalu. Kini hari telah senja,  ia telah jauh dari Mall. Ia merasa lapar, karena itu ia menghampiri seorang pemuda yang tengah duduk di Halte Bus. Pemuda itu sedang membuka bungkus roti.

Anak itu duduk tepat disamping sang Pemuda. Ia mengira, seorang pemuda pasti akan kasihan padanya.

“Hai nak, kamu lagi ngapain disini?” Tanya pemuda itu yang sejak tadi merasa terus dipandangi aoleh anak disebelahnya.

Sang anak menggelengkan kepalanya pelan.

“Mama papa kamu dimana?”

Sang anak kembali menggeleng. Itu membuat sang pemuda bingung.

Sang pemuda melihati anak itu dari pakaian yang dikenakan, jam tangan kecil, dan sebuah boneka baru. Ia pikir, anak itu berasal dari keluarga kaya.

“Kamu mau roti?” sang pemuda menawarkan pada sang anak.

Anak itu mengangguk. Dan langsung mengambil roti itu. Ia memakannya dengan lahap.

“Kamu tersesat ya?” Tanya sang pemuda yang kini mengira anak disampingnya tak bia bicara. Sang pemuda semakin iba pada anak itu.

Anak itu mengangguk.

“Nama kamu siapa?”

Anak itu menggeleng.

Sang pemuda memutar otaknya, mencari akal bagaimana sang anak dapat mengatakan namanya. Ia sempat berfikir untuk memberinya kertas san pulpen, namun tak mungkin anak sekecil dia bisa menulis.

“Pak  Billy…” sang pemuda memanggil seorang penjaga halte.

“Hei Pak Rama, tumben jam segini belum pulang” sapa Billy dengan ramah. Ia menghampiri Rama,”Keponakan?”

“Bukan! Tadi dia kesini. Kayaknya dia hilang atau tersesat. Boleh saya minta bantuan untuk menjaga anak ini?”

Billy tampak bingung, ia seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Begini pak, lebih baik Bapak antarkan ia ke kantor polisi. Dia akan aman disina.” Saran Billy.

“Anak sekecil ini ditinggal di kantor polisi? Aku tak yakin mereka akan merawatnya,” Rama khawatir.

“Atau anda bisa bawa dia ke panti asuhan. Dan anda bisa melapor ke kantor polisi. Dia akan dirawat disana, sampai ia ditemukan oleh orang tuanya. Dan saya bisa membantu,”

Rama tidak setuju dengan semua saran dari Billy. Ia merasa tak tega dengan anak itu.

“Mungkin lebih baik dia tinggal bersama saya, dan saya akan bantu ia menemukan kedua orang tuanya,”

“Itu hal yang mulai,” tukas Billy senang.

Sang anak mendengarnya, ia tampak senang.

“Kau akan tinggal bersama… panggil aku Om Rama. Kamu akan baik-baik saya nantinya,”

Rama akhirnya mengajak anak itu ke rumahnya. Rumahnya tak begitu jauh dari halte tersebut. Rama hanya butuh waktu lima belas menit dengan berjalan kaki untuk sampai di rumah.

“Kamarnya hanya satu. Dan Om tinggal sendirian disini. Jadi kamu tidur bareng Om. Apa kamu mau?”

Sang anak kembali menganggung. Kemudian, ia mengikuti Rama masuk ke kamar. Ia langsung berbaring di kasur.

“Kamu cape ya?” Rama menghampiri anak itu. Ia pun ikut berbaring, lalu memeluk anak yang tampak sangat ketakutan itu.

“Kamu suka Doraemon ya?”

Anak itu itu mengangguk.

“Kalu Om namain Nobby mau enggak?”

Anak itu kembali mengangguk. Ada sedikit senyum dari wajahnya. Sekarang, anak itu bernama Nobby.

Keesokan harinya, Rama kembali membawa Nobby ke Halte Bus. Ia menawarkan Nobby pada orang-orang kepercayaannya  disekitar Halte untuk diasuh sementara. Penjual kopi panas, pedangang Buku dekat Halte, dan pegawai toko bunga. Namun semuanya menolak, dan mereka semua menyarankan agar Nobby di bawa ke kantor polisi.

“Sepertinya ia sangat suka digendong,” Billy sang penjaga Halte menghampiri Rama.

“Nama Nobby, aku beri nama dia dari boneka Doraemon yang kemarin ia bawa,”

“Nama yang lucu,”puji Billy,”Apa kamu sudah bawa dia ke kantor polisi?”

“Aku akan berangkat kesana sekarang,”

Setelah itu Rama membawa Nobby ke kantor polisi. Rama agak sedikit lega, karena kasus Nobby akan segera di proses. Namun ada yang mengganjal dihatinya, ia rasa Nobby tidak senang ia dilaporkan ke polisi. Sungguh aneh.

Hari berikutnya Rama memasang selebaran tentang orang hilang di beberapa tempat yang ramai. Dalam selebaran tersebut ada foto Rama lengkap dengan ciri-ciri saat ia pertama kali ia temukan. Ia berharap mudah-mudahan cara itu berhasil.

Hari berganti, dan kini sudah satu minggu Rama menjaga Nobby. Selama itu tak ada kemajuan dari usahanya menemukan orang tua Nobby. Dan sampai saat ini pun, Nobby sama sekali belum berbicara. Selama itu juga, Nobby kecil harus Rama mandikan, harus ia suap jika makan, harus ia rangkul jika tidur. Dan Nobby terlihat senang ketika Rama membacakan dongen sebelum Nobby tidur.

Waktu senja setelah delapan hari Nobby bersamanaya, Rama pulang dari kantor. Nobby telah menungguinya di pagar rumahnya. Itu yang dilakuakan Nobby dua hari belakangan ini.

“Hari ini Om enggak beli Burger, om beliin Kentucky. Nih!” Rama menawari Nobby yang tengah menonton tv.

“Aku nggak suka kentaki,” jawab Nobby. Rama kaget mendengarnya. Selama ini Nobby tidak pernah bicara, dan bahkan Rama telah mengira Nobby bisu.

“Jadi kamu bisa bicara?” seru Rama.

Nobby mengangguk, ia tampak ketakutan.

“Jelasin ke On kenapa kamu melakuan ini. JELASIN!” bentak Rama.

Nobby kini menangis.

“Nobby nggak mau pulang. Nobby takut pulang ke rumah. Ayah sama bunda di luar negeri. Nobby tinggal sama pengasuh, dia jahat sama Nobby. Nobby takut…”

Perkataan Nobby terpotong oleh suara dering ponsel milik Rama.

“Hallo, benar ini dengan Pak Rama?”

“Iya ini darimana ya?”

“Ini dari kantor kepolisian. Kami ingin menyampaikan soal laporan bapak tentang anak hilang itu. Pihak kami ingin bapak  untuk datang ke kantor besok,”

“Untuk apa ya pak?”

“Untuk penelusuran lebih lanjut tentang anak itu,”

Rama memandang Nobby yang kini sedang menangis ketakutan.

“Terima kasih pak, tapi anak itu kemarin kabur saat saya pergi bekerja. Jadi saya cabut laporan saya.”

Tidak lama, Rama berhasil meyakinkan polisi kalau Nobby sudah tidak bersamanya. Dengan itu, urusan Nobby tidak akan ditelusuri lagi. Ia sudah memutuskan, Nobby akan tinggal bersama dengannya untuk selamanya.

“Nobby sudah jangan nangis, Om tau perasaan kamu. Apa kamu mau tinggal sama Om untuk seterusnya?”

Nobby mengangguk.

Rama memeluk Nobby erat-erat,”Sekarang dan seterusnya nama kamu Nobby, kamu nggak perlu nyebutin nama kamu yang asli. Om janji akan rawat Nobby dangan baik,”

Sejak saat itu Nobby jadi ceria, ia tak lagi merenung. Ia kini hidup layaknya anak kecil seusianya. Dan hidup Rama tak lagi sepi seperti dulu. Ia kini menghabiskan waktu sehabis petangnya bersama Nobby. Makan bersama, nonton tv bersama, dan tidur bersama. Nobby sudah sudah seperti anaknya sendiri, dan Rama sangat sayang padanya.

Saat hari-hari libur, Rama mengajari Nobby main sepak bola. Kadang ia mengajaknya liburan ke suatu tempat bermain. Kadang pula berkeliling kota sekitar komplek. Dan semua orang kini sudah mengenal Nobby sebagai keponakan Rama.

Di suatu hari ketika sudah tiga Bulan Nobby tinggal bersama Rama…

Nobby mengantar Rama yang akan bekerja sampai pagar rumah.

“Nobby pengen ikut..” pinta Nobby.

“Om itu kondektur Bus, nggak mungkin kamu ikut paman naik Bus,” tolak Rama secara halus.

“Tapi Nobby pengen anter Om sampe Halte. Nobby bisa kok pulang sendiri.”

“Emmm oke, tapi kejar om sampe halte!”

Rama pun berlari kencang menyusuri jalan.

“Om tungguin Nobby!” serunya terengah-engah kelelahan.

“Ayo sini… hahaha…”

Itu adalah suara tawa Rama paling keras seumur hidupnya. Ia begitu bahagia memiliki seorang Nobby. Yah! Sangat bahagia.

Sore harinya Nobby menunggu kepulangan Rama di halte Bus. Rama kaget melihat Nobby.

“Nobby… kamu seharian disini?”

“Dia baru lima menit menunggu…” Billy sang penjaga halte menjawab.

Nobby langsung merangkul Rama.

“Dia anak yang manja,” ucap Rama pada Billy.

“Lebih baik seperti itu, dia kelihatan baik.”

Rama senang mendengarnya.

“Ayo kita pulang, kita akan bermain-main di jalan nantinya,”

Rama menggendong Nobby di pundaknya. Ia berjalan meninggalkan halte ke rumahnya. Beberapa orang menyapanya, seperti penjual kopi panas, pedagang buku, dan pegawai toko bunga. Mereka semua tampak senang melihat tingkah laku Rama dan Nobby.

Peristiwa itu berulang. Nobby mengantar rama bekerja sampai halte, dan ia menunggui Rama sampai pulang di tempat yang sama. Semakin lama orang-orang di sekitar halte semakin ramah dengan Nobby. Kadang Nobby mendapat es krim gratis dari seseorang, kadang coklat, es campur, dan bahkan uang untuk jajan. Dia menjadi anak yang banyak disukai orang karena kepolosannya.

Suatu malam, setelah lebih dari satu tahun Nobby tinggal bersama Rama…

Seperti malam-malam sebelumnya, Rama selalu merangkul Nobby ketika tidur setelah membacakan dongeng.

“Om, lampu ajaib punya Aladdin itu ada beneran enggak sih?”

“Yang enggak lah Nak, itu kan cuma dongeng,”

“Lampu ajaib itu mirip ya sama Kantong ajaib punya doraemon?”

“Udah ya tidur. Besok malam paman bacain lagi kisah saribu satu malam-nya, Ali Baba juga sama kerennya kaya Aladdin,”

“Wah Nobby udah enggak sabar…”

“Makanya sekarang tidur dulu..”

“Makasih ya Om masih sayang sama Nobby. Nobby seneng deh!”

“Kok ngomongnya gitu, sampai kapanpun Om bakal sayang sama Nobby…”

Tidak sampai kapanpun…

Paginya Nobby mengantar Rama sampai halte seperti biasa.

“Hari ini jangan kerja ya Om..,”

“Kenapa, kamu enggak sakit kan? Kamu baik-baik aja kan?”

“Tapi om…”

“Kalo om enggak kerja, besok Nobby makan apa?”

Nobby seperti ingin menangis, ia memeluk Rama erat-erat. Lebih lama dari biasanya.

Dan Rama pun berangkat. Setelah itu Nobby pulang ke Rumah. Dan sore harinya ia kembali menunggu Rama di halte.

Adzan maghrib telah berkumandang, namun Rama tak kunjung turun dari Bus. Nobby masih menunggu dengan sabar. Satu jam berlalu, dan adzan isya tlah berlalu. Rama masih belum muncul dari Bus.

“Nobby…” seorang penjual kopi panas yang setiap hari menyapa Nobby mendekat.

Sang penjual kopi itu terlihat sedih.

“Ada apa Om?” tanya Nobby.

“Kamu sudah tidak perlu menunggu Om Rama lagi. Dia sudah pergi ke tempat yang tidak bisa Nobby temukan. Dia sudah tidak akan lagi pulang ke rumah. Jadi sekarang Nobby pulang. Besok Om carikan Nobby tempat yang baru,”

“Memangnya Om Rama kenama, Om?” Nobby mulai ketakutan.

“Dia kecelakan. Bus yang ia tumpangi terbakar di jalan. Dia juga ikut terbakar….”

“ENGGAK MUNGKIN, Om Rama enggak mungkin ninggalin Nobby. Dia sudah janji bakal sama Nobby buat seterusnya,” teriak Nobby. Ia mulai menangis.

Nobby lari sekencang-kencangnya. Ia pulang ke rumah.

“Om Rama… Om Rama…” ia memanggil-manggil Rama dalam rumah. Namun tak ada jawaban.

Ternyata hari itu adalah hari terkahir Nobby melihat Rama. Ia meninggalkan rumah itu pagi harinya. Ia duduk seharian di halte. Penjaga Halte yang iba padanya memutuskan untuk menaruh Nobby ke panti asuhan.

Namun tanpa di duga, setiap sore Nobby mengunjungi Halte. Duduk di tempat seperti biasa ia menunggu Rama pulang. Satu tahun, dua tahun pun berlalu. Nobby tetap mengunjungi halte setiap sorenya. Ia selalu berharap, Om Rama akan keluar dari bus dan memeluknya kembali.

Tiga tahun berlalu, seorang reporter meliput Nobby. Sang Reporter menamai artikelnya: Seorang Anak Menunggu Pamannya Yang Telah Tiada. Mulai saat itu banyak sekali orang yang iba padanya. Dan beberapa minggu kemudian, sepasang suami istri mengunjungi Nobby. Mereka adalah kedua orang tua Nobby.



“Aku tak ingat betul bagaimana wajah Pamanku yang aku panggil Om Rama. Yah akulah Nobby itu yang tak pernah menyebut nama asliku pada sang Paman,”

Beberapa orang melihat padaku dengan serius. Mata mereka semua terlihat berkaca-kaca. Itu adalah pandangan mereka padaku yang lain dari sebelumnya, lain dari sebelum aku menceritakan kisahku waktu kecil.

“Namaku Surya, untuk kalian yang belum tau namaku, dan aku akan selalu menjadikan Nobby kecil sebagai Tokoh inspirasiku. Darinya aku tahu arti sebuah kebahagian yang sejati. Kebahagian bukanlah seberapa banyak keinginan kita yang tercapai, tapi kebahagiaan adalah saat kita merasakan kasih sayang yang sesungguhnya. Nobby kecil mengajarkanku arti sebuah ketulusan, kesetiaan, dan penantian. Sebuah semangat hidup yang tak bisa direkam oleh alat secanggih apapun. Emmmm… dan apakah ada yang ingin bertanya?”

Dan serentak semua orang dalam klub itu mengangkat tangannya, begitu juga sang pemandu. Itu membuat aku bahagia.

“Maaf, kalian bisa turunkan tangan kalian. Aku tak mungkin menjawab satu-persatu dari pertanyaan kalain. Tapi ketahuilah, bahwa semua pertanyaan belum tentu ada jawabannya. Tapi bolehkan aku menanggapi sedikit dari apa yang kalian semua ceritakan tadi,”

Dan serentak semuanya menganggukan kepala.

“Untuk Rifa’I dan Carlos, maaf jika aku lancang. Kita semua disini menyadari bahwa tidak satu hal pun yang lebih peting dari semuanya kecuali Tuhan. Aku sering mencoba memahami Tuhan, aku cari tahu, namun aku tidak berhasil. Aku mencoba bertanya tentang Tuhan, tapi aku tak menemukan jawabannya. Hingga aku ingat Nobby kecil, dan sat itulah aku menyadari… Dalam wajah orang-orang yang menyayangiku, aku melihat kasih-Nya. Dan dalam hari-hari yang aku jalani, aku menemukan Anugerah-Nya. Melalui orang yang paling dekat denganku, aku menemukan kesetiaannya. Dan sebuah kesetian yang tak ada habisnya sampai selama-lamanya…”

Dan sesaat kemudian, semua tepuk tangan dipersembahkan untukku.

Nobby kecil, sampai kapanpun engkau akan selalu jadi pahlawanku.

***

Cerpen: Bukan Salah Bintang-bintang


(Karya: Ma'arif Suryadi)

Aku pernah mendengar suatu pernyataan ’Tidak ada sahabat sejati di dunia ini, yang ada hanyalah kepentingan’, dan sialnya aku percaya akan hal itu. Faktanya, aku pernah punya sahabat waktu aku duduk di sekolah dasar. Enam tahun aku bersahabat dengannya, dan setelah kami lulus, tak ada satupun kabar darinya. Aku juga punya sahabat lagi sewaktu SMP, dia orang kaya. Hampir setiap hari aku mendapat traktiran darinya, begitupun dia yang selalu mendapat contekan dariku. Dan kami berpisah setelah lulus, aku tak pernag lagi mendengar kabarnya.

Kini aku SMA, dan aku sudah lulus. Hanya saja aku belum mendapat ijasah. Dan aku harus hadir ke pesta perpisahan tiga hari lagi. Tentunya, aku juga punya sahabat. Tapi kali ini agak berbeda, sahabatku ini seorang cewek. Namanya Bintang. Sama seperti namanya, dia bersinar di sekolah. Dia cantik, dia baik, dia berprestasi, dia familiar, dan dia kaya. Dan beruntungnya aku selalu digosipkan jadi pacarnya. Padahal aku tahu, dia tak pernah menganggapku lebih dari sahabat. Dia pernah bilang sendiri, kalau sampai hari ini dia sudah punya tujuh mantan kekasih. Dan dari ketujuh mantannya itu, semuanya membuat dia kecewa.

Dia juga pernah bilang kalau aku adalah cowok yang tak pernah membuatnya kecewa. Dan itu membuat aku berfikir, apakah aku cowok sejati? Tapi aku tak peduli, yang penting aku selalu bisa dekat dengannya. Kami berdua memiliki kualitas obrolan yang buruk. Kami jarang sekali membicarakan hal penting. Semua yang kami bicaran adalah hal konyol. Kami sering bedebat keren mana antara Maroon 5 atau One direction, Spiderman atau Superman, Harry Potter atau The Lord of the Rings, Doraemon atau Shincan, Afgan atau Vidi Aldiano. Suatu hari kami pernah membicarakan siapa yang lebih indah diantara bintang kami, Scorpio atau Sagitarius.

Malam itu kami berbaring di taman belakang rumah Bintang, di atas rumput yang tak aku tahu jenisnya, namun itu terasa seperti di atas karpet. Malam itu sangat indah, penuh bintang. Dan melihat berdua bintang di atas sana adalah hal yang paling aku sukai saat musim kemarau di bulan Agustus.

“Kamu tau nggak letak rasi scorpio itu sebelah mana?” Tanya Bintang padaku.

“Aku anak sosial, dan aku tidak tertarik pada astrologi, emmm atau mungkin astromoni,” jawabku seadanya.

“Padahal aku ingin cari tahu, tapi selalu saja lupa,”

“Sebagai anak sain, bukanya itu di pelajari ya?”

“Harusnya, di akhir Bab Fisika kelas tiga, namun karena tidak masuk dalam ujian, jadi tidak dipelajari. Tapi bukannya geografi  juga ada tentang jagat raya?”

“Ya memang ada, tapi aku tidak tertarik, dan aku malas mengingat-ingatnya. Dan yang aku ingat itu juga ada pada pelajaran kelas 4 SD. Aku lebih tertarik pada ekonomi, dan aku shampir selalu mendapat nilai sempurna pada pelajaran itu,” jelasku.

“Oke lupakan saja. Aku hanya berpikir kalau scorpio itu rasi yang paling terkenal,”

“Dan sagitarius adalah rasi yang palin indah,” tambahku tak mau kalah.

“Tau dari mana? Dan bahkan sagitarius tidak pernah di singgung dalam buku astronomi manapun,”

“Aku sering mendengar, dan aku bangga mendengarnya. Dalam film-film romantis, sinetron, dan buku-buku fiksi. Dan tak ada satupun film, sinetron, atau buku yang bilang scorpio itu indah,” aku mulai kesal.

“Oh ya? Aku rasa aku lebih tau lebih banyak tentang scorpio daripada kamu?” ucapnya dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.

“Kamu bilang lebih tau? Baik kalo begitu aku ingin Tanya? Dimana letak rasi itu, langit utara atau selatan? Kapan scorpio itu bisa terlihat, musim kemarau atau penghujan? Kemana scorpio menunjukan arah,  tenggara atau timur, utara atau selatan. Atau mungkin barat? Dan taukah kamu, dari gugus bintang apa saja rasi kalajengking konyol itu terbentuk?” aku mencoba menyudutkannya.

“Aku tak yakin apakah nantinya anak social akan mengingat penjelasanku tentang scorpio?” ejeknya.

“Kalo begitu aku yang akan menjelaskan tentang sagitarius. Yang aku tau tentang sagitarius, sebuah rasi bintang yang menggambarkan tentang makhluk dalam mitos kuno yunani. Si Centaurus sang pemanah. Kau bisa bayangkan betapa indahnya centaurus itu,”

Aku mulai merasa menang.

“Hanya itu yang bisa kamu jelaskan? Aku akan balik bertanya, apa kamu tau perbedaan Centaurus, Pegasus, dan  Unicorn?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya,”Pada dasarnya mereka sama, seekor kuda. Pegasus dengan sayap, Unicorn dengan satu tanduk di kepalanya, dan centaurus dengan tubuh setengan manusia. Sebagai seorang sahabat harusnya kamu tahu, betapa tertariknya aku pada dunia imaginasi seperti itu,”

Bintang tampak kesal. Ia pun lantas bangun. Aku ikut bangun dari rumput taman yang sudah tidak nyaman lagi.

“Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang sekarang,” tukas Bintang. Lalu, ia melangkangkan kakinya.

Tanpa sadar aku menarik tangannya, mencoba untuk menahannya.

“Aku tahu aku salah. Ini semua bukan salah bintang-bintang, ini salahku sendirian. Sebagai seorang cowok dan sahabatmu, seharusnya aku mengalah untukmu. Kita sering berdebat seperti ini. Kadang aku merasa lucu, kita itu bersahabat, tapi kenapa ya kita sering marahan,  emmm membuat kesal satu sama lain. Dan kamu ngambek, lalu aku minta maaf. Dan kita kembali bersahabat seperti biasa,” kataku berhenti, aku mencoba memikirkan kata-kata lain untuk aku ungkapkan,”aku tidak pandai merangkai kata, aku hanya merasa aneh. Entahlah! Tapi yang selalu aku rasakan adalah… aku selalu menyesal karena membuatmu marah. Itu saja,”

Aku melepas tanganku dari tangan Bintang. Ia masih tak menoleh padaku.

“Baiklah keliatannya kamu benar-benar kesal padaku .  Errrrr… aku akan memutar lewat samping rumahu…  emmm  jika mungkin kamu tidak ingin aku lewat pintuuu...  karena harus masuk lagi ke rumahmu. “ kataku terbata-bata

Tiba-tiba Bintang membalik tubuhnya kearahku. Kemudian entah karena sebab apa dia tersenyum padaku.
“Terima kasih untuk malam ini, aku harap kita bertemu di pesta perpisahan. Dan kamu masih satu-satunya cowok yang tidak pernah membuatku kecewa. Aku setuju denganmu, ini semua bukan salah bintang-bintang,”

Dan seketika waktu terasa berhenti. Bintang memelukku untuk pertama kalinya.

***

Setelah malam itu aku sadar bahwa ‘tidak ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bisa seterusnya bersahabat’. Sebenarnya aku sudah merasakan hal yang berbeda ketika pertama kali aku kenal dengan Bintang. Hanya saja aku memilih untuk selalu bersamanya, apapun caranya. Aku tak ingin semua ini berakhir, aku ingin selalu bersamanya… yah untuk selamanya. Bahkan mala mini, malam yang dinamakan Pesta Perpisahan, tak akan pernah memisahkan kami.

Setelah acara Perpisahan selesai, aku duduk di teras berundak dekat parkiran. Aku dan Bintang janjian bertemu disini. Di dalam tadi aku tak sempat mengobrol banyak dengannya, aku harus bergabung dengan teman cowok lainnya dan begitupun dia harus bergabung teman cewek lainnya.

“Satya?” seseorang memanggil namakuku dari belakang. Lantas aku menoleh, ternyata itu Bintang.

“Duduklah! Kamu terlambat cukup lama,” protesku. Mendengar itu, Bintang pun duduk tepat di sampingku.

“Apa kita nggak dikira tukang parkir ya?”

“Mana mungkin ada tukang parking seganteng aku?” candaku.

“PD gilaaa…” serunya.

“Dan mana mungkin ada tukang parkir secantik kamu, apalagi dengan gaun cantik itu,”

“Udah pinter ngegombal ya? Tapi makasih deh!”

Aku tersenyum padanya, ia pun membalasnya.

“Selamat ya kamu jadi lulusan terbaik tahun ini. Aku sedang bicara dengan orang jenius yang sangat menggemari pelajaran Ekonomi.” Ucapnya padaku.

“Kelihatannya semua itu memang hebat. Tapi kalau aku hebat, pasti aku dulu memilih jurusan sains kan?”

“Tidak selalu seperti itu. Tapi selamat! Aku bangga jadi sahabatmu.”

“Terima kasih. Aku tak menyiapkan kalimat untuk membalas ucapanmu,” kataku sambil tersenyum padanya.”

Ia tidak membalas senyumku, keliatannya ada hal penting yang ia ingin sampaikan lagi.

“Oh iya, aku mau buat pengakuan kalau aku setuju dengan pernyataanmu malam itu. ,”

“Pernyataan yang mana. Pernyataan kalau tidak ada sahabat sejati di dunia ini, yang ada hanya kepentingan?”

“Aku juga setuju dengan itu. Tapi bukan itu. Tentang rasi bintang. Yah baru malam kemarin aku kebetulan liat drama korea, dan di situ pemainnya bilang kalau sagitarius itu yang paling indah. Walaupun itu, aku tetap yakin kalau scorpio itu yang paling terkenal. Aku bahan udah mempelajari rasi scorpio. Setelah malam itu aku langsung beli buku astrologi, eh astronomi maksudnya.”

Aku hanya tersenyum-senyum mendengarnya,

“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” tanyanya keheranan.

“Kamu lucu.”

“Menghina atau…”

“Aku memuji dengan tulus.”

Aneh sekali, mendengar pujianku bukannya Bintang tersanjung, ia malah terlihat sangat sedih.  Ia seperti ingin menangis. Matanya seketika berkaca-kaca.

“Apa aku salah?” tanyaku bingung.

Bintang menggeleng.

“Lalu kenapa kamu keliatan sedih?’

“Aku sedih karena kemarin aku baca majalah. Aku liat ramalan zodiak, dan disitu tertuliskan kalau sahabat terbaikku akan pergi.”

Setetes air mata jatuh membasahi pipi Bintang.

“Zodiak? Kamu masih percaya dengan ramalan?”

“Terserah kamu mau percaya atau enggak. Dan beberapa kali pun kamu bilang ‘Bukan salah bintang-bintang’, aku tetap takut. Bisakah kamu merasakan itu?”

Tanpa aku sadar, aku memeluk Bintang. Aku berusaha menenangkannya.

“Aku tau, aku bisa merasakan. Aku juga takut kita berpisah. Tapi percayalah semua akan baik-baik saja. Semua tidak seburuk apa yang  kamu pikirkan. Dan itu hanyalah ramalan zodiak. Itu belum tentu benar. Kamu tidak boleh percaya sepenuhnya dengan itu.” Hiburku.

“Aku hanya takut kalau aku tak bisa bahagia tanpamu. Tiga tahun kita bersahabat. Kita telah melakukan segalanya bersama. Aku hanya…”

“Tenanglah…” potong kataku,”asal kamu tahu, aku bahkan lebih takut darimu. Aku pernah kehilangan sahabat sebelumnya. Tapi nyatanya aku baik-baik saja. Aku tetap bahagia. Aku tetap bisa tersenyum, bahkan tertawa. Dan bahkan, kesendirian pun tidak menakutkan seperti yang kita kira,”

“Satya, terima kasih semuanya, aku belum pernah menemukan sahabat sebaik kamu,”

“Aku juga,” tukasku.

Kami lama berpelukan. Bahkan ia tak mau melepas pelukannya. Ia mencurahkan segala yang ia takutkan. Dan aku selalu menghibur sebisaku. Aku baru melihat ia sesedih ini. Selama kami bersama, kami selalu tertawa. Ini merupakan kebersamaan kami yang paling menyedihkan.

***

Aku tak percaya kalau acara Perpisahan malam itu menjadi waktu terakhir kalinya aku berjumpa dengan Bintang. Aku tak pernah bisa mengatakan kalau apa yang ditakutkan Bintang, apa yang ada dalam ramalan zodiak itu adalah benar. Aku akan pergi meninggalkan Bintang. Untuk sementara, tapi bukan untuk waktu yang sebentar.

Aku semakin dekat dengan impianku. Aku mendapatkan besiswa kuliah Ekonomi  di Iinggris. Karena itu siang ini aku ke Bandara. Jam dua belas siang pesawatku akan berangkat. Kira-kira itu setengah jam lagi. Aku tak pernah membayangkan semua ini akan terjadi. Aku akan pergi dan meninggalkan semuanya.

Aku menarik koperku perlahan. Tempat itu tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang saja. Aku menoleh ke belakang, mencoba mengingat setiap tempat di pandanganku. Sebuah mobil Mercedes berhenti. Entah kenapa aku merasa kenal dengan mobil itu. Dan seorang keluar dari mobil itu.

Tidak! Tidak mungkin. Mana mungkin dia tahu aku di sini.

“Bintang…” kataku pelan dengan penuh keterkejutan. Tampaknya Bintang juga sama terkejutnya. Dia langkah cepat dia menghampiriku. Dia tampak marah, sangat marah.

“Biar aku jelaskan,” kataku cepat sebelum Bintang mulai bertanya padaku,”Aku dapet beasiswa kuliah ekonomi di Oxford University, dan aku harus berangkat hari ini,”

Bintang menatam tajam padaku. Dia tampak marah, oh tidak! Dia lebih dari marah, dia kecewa.

“Kamu ingin pergi dan kamu tidak ngasih tau aku. Sahabat kamu? Atau aku apa? Tidak berartikah seorang sahabat bagimu,” sesal Bintang. Ia mulai menangis.

“Aku…”

“Kamu keterlaluan,”potong Bintang.

“Yah aku keterlaluan. Tapi… aku juga punya alasan,”

“Dan kamu pikir aku mau mendengarnya?”

“Ya, kamu mau.”

“Aku tidak mau,”

“Terserah! Aku ingin bilang: malam itu, saat acara perpisahan. Aku ingin mengatakan ini, mengatakan kalau aku ingin pergi ke Inggris. Tapi semua tak sesuai rencana. Kamu malah lebih dulu sedih ketika membaca ramalan zodiac kalau sahabatmu ingin pergi. Kamu menangis, dan aku tidak tega. Dan aku lebih tidak tega kalau harus bilang ramalan zodiac itu benar. Ya aku salah. Bintang-bintang itu benar,”

Kini wajah Bintang basah air mata.

“Aku hanya bingung, kenapa semua rencana ini gagal. Kenapa kamu bisa ada disini, padahal hanya keluargaku saja yang tahu. Dan bahkan, aku suruh keluargaku merahsiakannya dari siapapun, apalagi kamu. Dan sekarang aku melihatmu menangis, itu yang paling aku takutkan dan kini terjadi,”

“Sekali lagi kamu keterlaluan. Apakah kamu tidak merasan hal berbeda, bahkan sejak kita pertama berkenalan. Apa kamu tidak pernah melihat sedikitpun perasaan yang berbeda?”

“Bintang, maafkan aku. Tapi aku harus pergi. Ini impianku. Cita-citaku dari kecil. Kamu tau kan betapa aku ingin kuliah Ekonomi, dan ini di Inggris. Tak ada satu hal pun yang boleh menghancurkan impianku,” tegasku berusaha tetap tegar.

“Tapi aku mencintaimu, dan aku ingin kamu tetap disini. Aku tak mau jauh darimu!” seru Bintang.

“Kamu apa?” aku sangat terkejut mendengarnya,”Kamu cinta padaku? Kenapa kamu berpacaran dengan cowok lain, sedangkan aku selalu ada disampingmu. Dan taukah kamu berkali-kali aku ingin bilang, tapi kamu sudah dengan orang lain,” mataku terasa pedih. Tidak! Aku tidak boleh menangis, apalagi di hadapan wanita yang aku cintai.

Dan dalam sekejab, pelukan Bintang jatuh di tubuhku. Aku merasa kedamaian yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

“Bintang, aku Cuma ingin kamu tahu kenapa aku tak mengatakan kalau aku ingin pergi. Kenapa aku tidak bilang, sama seperti alasan aku tetap membuatmu jadi sahabat. aku tak ingin ada air mata di antara kita. Aku harus pergi.”

Aku melapas  pelukan Bintang. Namun ada yang aneh, air matanya kini telah tiada. Dia malah tersenyum kepadaku.

“Kamu tidak sedih aku mau pergi?” tanyaku heran.

“Apa kamu nggak penasaran kenapa aku ada disini?” Tanya Bintang balik yang membuatku tambah heran.

“Kamu pasti tau dari mamaku kan?”

Dia menggeleng,”Aku ingin menjemput Ayahku yang baru pulang dari London,”

Aku baru ingat kalau Ayahnya Bintang bekerja di kedutaan Indonesia untuk Inggris.

“Aku masih bingung. Aku masih tak mengerti kenapa kamu yang tadinya sedih sekarang ceria?”

“Ternyata mungkin Zodiak itu salah. Semua ini bukan salah bintang-bintang. Hanya saja sang peramal yang kurang ajar. Sebenarnya malam itu aku sedih karena aku diterima kuliah di Inggris. Ayahku yang mendaftarkannya. Dan aku pikir, aku jauh dari kamu. Dan nyatanya, kamu juga mau kuliah di Inggris. Dan dua minggu lagi aku akan ke Inggris. Menyusul orang yang paling aku cinta,”

Aku hanya terdiam.

“Lalu kenapa kamu tadi nangis?”

“Itu pelajaran buat kamu karena kamu tidak jujur padaku. Hanya acting, tidak kalah hebat kan dengan Angelina Jolie?”

Aku sangat bingung, pikirku.

“Apa kamu tidak senang mendengar kabar gembira ini?”

Spontan aku langsung memeluk Bintang. Aku sangat senang, walau aku masih sangat bingung. Aku pikir, aku tak akan lagi sendirian untuk mengejar impianku. Aku akan akan bersama sahabat, mungkin bukan lagi sahabat. Kami saling jatuh cinta. jadi, kedua teoriku tidak salah. Keduanya terbuktti. Pertama, tidak ada sahabat sejati. Mungkin semua persahabatan memang di dasarkan pada kepentingan. Kepentingan untuk saling berbagi, saling melengkapi, saling memahami, saling menolong mungkin. Dan kedua, yang jelas semua orang bisa merasakan bahwa tidak ada sepasang cewek dan cowok yang bisa seterusnya jadi sahabat. aku rasa semua orang bisa membuktikan teoriku yang kedua.

***

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © DreaMedia : Bingkai Harapan -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -