Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Sejarah Besar dalam Sebuah Impian

Ada banyak hal yang tak pernah kita duga dalam hidup ini. gak mau basa-basi banyak; disini saya akan mengenang satu pintu tujuan yang terbuka. Pintu itu adalah ketika cerpen-cerpen saya dimuat menjadi HEADLINE dalam situs www.mediaobsesi.com, dan ini menurut saya merupakan langkah awal untuk membuka pintu impian yang lain.

Ada 4 cerpen (semua dari blog ini) yang saya kirimkan ke situs www.mediaobsesi.com dan 2 di antaranya masuk dalam headline nomor 1 dan 2... ini dia buktinya;






Dan yang paling membuat saya bangga lagi ketika dalam 2 hari cerpen saya sudah dibaca lebih dari 100 kali. Padahal ketika saya memposting cerpen tersebut dalam blog ini, membutuhkan waktu sebulan untuk mencapai angka 100 penayangan posting. sungguh sangat membuat saya haru.





Dan akhirnya, kita tahu bahwa apa yang kita usahakan dengan penuh cinta, maka kita akan menuai cinta yang lebih besar dari itu. Salam Maarif Suryadi...

Autobiografi Maarif Suryadi (Ma'arif Suryadi)

Ini merupakan contoh autobiografi saya untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia.


Biografi Chairil Anwar

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri, Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya. Namun, Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun; sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya.

Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.

Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dimana ia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap menafkahinya dan ibunya. Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman. Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan Indonesia.

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Hampir semua puisi-puisi yang ia tulis merujuk pada kematian.Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya. Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948.

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949; penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyarah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".[3]
Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949,[4] sedangkan karyanya yang paling terkenal berjudul Aku dan Krawang Bekasi. Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi pertama berjudul Deru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Karya tulis yang diterbitkan 

  • Deru Campur Debu (1949)
  • Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
  • Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
  • "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
  • Derai-derai Cemara (1998)
  • Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
  • Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

  

Terjemahan ke bahasa asing

Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman, bahasa Rusia dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
  • "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
  • "Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
  • Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)
  • "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
  • The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
  • The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
  • Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
  • The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
  • Dalam Kumpulan "Poeti Indonezii" (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S. Semovolos. Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-42.
  • Dalam Kumpulan "Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov" (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan oleh Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
  • Dalam kumpulan "Pokoryat Vishinu" (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.

Karya-karya tentang Chairil Anwar

  • Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
  • Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
  • Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
  • S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York, 1976)
  • Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
  • Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
  • H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
  • Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
  • Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
  • Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
  • Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
  • Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)

 




Sebuah Kesulitan

Kawan, pernahkah kau merasa, atau berpikir semisal ini :

"Alangkah bahagianya dia, dan betapa beruntungnya dia, betapa banyak kesuksesan dalam hidupnya, banyak orang mengaguminya, berderet prestasi telah dia raih, dan seterusnya?"

Ada sosok-sosok yang engkau kagumi, yang lebih (terlihat) sukses, lebih baik dan cerdas yang kemudian membuat kau merasa tidak lebih beruntung dari dia?

Ah, percayalah kawan, setiap orang yang lihat lebih darimu itu belumlah tentu memiliki apa yang lebih dari dirimu.

Percayalah kawan, bahwa kau juga sesungguhnya memiliki sisi terbaik yang belum tentu dimiliki oleh orang yang kagumi itu.

Kawan, jika sempat ada rerasa rendah dalam dirimu, maka enyahkanlah segera! Bukan maksud untuk berbangga diri tentunya. Tapi, untuk meyakinkan bahwa kau tak serendah yang kau kira.

Maka, mengoptimalkan apa yang kau miliki adalah lebih baik dari pada meratapi apa yang tak kau punya.

Percayalah, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik! Percayalah, Allah pasti takkan pernah sia-sia terhadap hamba-Nya. Man Jadda wajada. Allah takkan pernah merubah nasibmu, sebelum engkau sendiri yang memiliki azzam terkokoh untuk menjadikan diri lebih baik.

Tak udah bersedih atas sesuatu yang luput darimu.

Jangan pernah putus asa, atas kegagalan-kegagalan yang yang pernah menyinggahi hidupmu.

Dan bersabarlah atas ketetapan-Nya yang tak pernah kau ingini....karena setiap kesulitan yang engkau hadapi itu selalulah Dia sediakan kemudahan.

Jangan menyerah dengan keterpurukan, dan justru jadikan ia sebagai pemantik agar kau lebih baik lagi.

Kawan, kuberitakan padamu, bahwa aku menjumpai hal yang sama sekali tak ingin aku hadapi. Harapan-harapan yang lenyap, tak pernah bertemu wujud nyatanya, dan berhadapan dengan sesuatu yang sama sekali tak pernah kuingini kehadirannya. Aku terjatuh. Aku merasa menjadi orang yang paling merana. Tapi tidak...

Tidak selamanya demkiian. Sebab segalanya harus dikembalikan kepada prinsip bahwa Dia pasti senantiasa memberikan ujian sebatas kemampuanku saja. Memang tak mudah untuk berlapang hati. Tapi, kita bisa.

Dengan demikian, sempitnya dunia yang terlihat di hadapan kita akan menjadi luas. Bahkan jalan yang tak pernah kita dugakan, kemudian hadir memberikan kita kemudahan... Tetaplah berprasangka baik atas takdir-takdir-Nya. Bahkan setidak ingin apapun kita mendapatinya. Akan tetapi, jika memang ia datang pada kehidupan kita, maka percayalah Bahwa setiap apapun kejadian, pasti Dia sediakan seluas-luasnya hikmah! Sekali lagi, Allah tak akan sia-sia pada hamba-Nya.

Meski, terasa berat ujian dari-Nya, percayalah, hanya orang-orang yang sanggup lah yang dapat melewatinya. Bahkan Allah percaya, bahwa diri kita sanggup. Lantas mengapa kita tak percaya pada kesanggupan diri kita, sedang Dia percaya.

Tetap semangat!

Hadapi dengan sabar. Dan yakinlah, bahwa seburuk-buruknya keadaan, tetap saja menyediakan pelangi kehidupan yang indah. Jika hari ini, rezekimu sempit, atau kau menderita sakit yang melemahkanmu, maka percayalah bahwa Dia Maha Kaya yang akan mencukupkan keperluanmu.

Oh iya kawan, nasihat ini tentu saja aku tujukan pertama kali untuk diriku sendiri. Semoga juga untukmu.

Senyum Bahagia


Orang-orang yang kita sayangi
boleh saja pergi meninggalkan kita
Mereka boleh saja
meninggalkan kita untuk selamanya

Tapi senyum kita
tak boleh ikut pergi bersama mereka

Hidup ini memang berat,
penuh cobaan dan ujian
tapi semua itu
bukan untuk membuat kita jatuh
semua itu untuk membuat kita semakin kuat...

Senyuman
adalah hal terindah yang kita miliki
tak ada seorangpun
yang berhak merebutnya
dari kita selain tuhan,
itu juga kalau mau

oleh karena itu,
jangan menunggu bahagia untuk tersenyum...
tapi tersenyumlah
maka kau akan menjadi bahagia

Tak Seperti Semestinya

Mengapa yah, setiap kali melihat mereka, tak lagi dapat kubendung tetesan air dari sang mata ini.
Ya memang. Aku memang sudah tertinggal jauh. Sangat jauh dari mereka.

Terkadang, ini melecut semangatku. Tapi terkadang, ini juga sekaligus melemahkanku.

Semestinya, aku sudah sepenuhnya tegar dari segenap nestapa itu. Seharusnya!
Tapi, nyatanya aku tak seperti kemestian itu.

Hanya ada dua pilihan, sepenuhnya meninggalkan segenap kisah itu, atau berusaha tegar menyongsong nyata! Tapi, aku tak setegar itu, ternyata. Belum sepenuhnya. Mungkin esok. Entahlah.

Menuju Kenyataan

Untuk sesuatu yang tak pernah dikehendaki kehadirannya, meskipun begitu mudah untuk mengucapkannya, ternyata menerima kenyataan teramat sulit. Sulit. Tapi beginilah hidup. Memang tak selalu mau kita kemudian menjadi nyata adanya. Dan tak semua hal yang begitu kita hindari, kemudian tak pernah menghampiri kita. Selalu saja, hanya sebagian ingin-ingin kita saja yang menjadi wujud nyatanya, dan hanya sebagian saja dari hal-hal yang coba kita hindari yang tak menjadi nyatanya. Sekali lagi, sebab hidup ini tak selalu seperti ingin-ingin kita belaka.

Menerima kenyatan yang tak menyenangkan ternyata tak selalu mudah. Oleh karenanya, banyak orang (mungkin termasuk aku) yang pengecut untuk menuju kenyataan itu. Pengecut untuk berhadapan dengan sesuatu yang terjadinya adalah suatu kemestian.

Sesuatu yang sangat kutakuti kehadirannya dalam kehidupan, mungkin saja hampir menunjukkan wujudnya. Tapi, aku takut untuk menyingkap itu semua, meski aku tahu, sebentar lagi mungkin ia akan menjadi nyata. Nyata di hadapanku. Ya, mungkin aku yang terlalu takut untuk menghadapi kenyataan, jika itu memang terjadi. Sering kali aku membayangkan hal-hal yang tak pernah kuinginkan terjadi itu kemudian menjadi sebuah realita.. Sedih. Dan sungguh menyedihkan...

Tapi, aku harus kembali kepada sebuah penyadaran, bahwa ujian-Nya pastilah selalu setara dengan kemampuanku. Karena aku sangguplah,.. yaa, karena aku sangguplah. Tak mungkin Dia memberikan ujian melebih kemampuanku... Karena ketetapan-Nya adalah yang TERBAIK, meski terbaik itu tak selalu atas ingin diri kita saja, maka menjalaninya dengan cara TERBAIK adalah pilihan TERBAIK. Ya, sebab setelah hujan yang deras dan langit yang terang, akan ada pelangi yang indah. Tak ada pelangi melainkan sebelumnya dirundungi mendung.

Mari bersemangat, wahai diriku!
Ketahuilah, bahwa Dia punya cara terbaik bagi setiap hamba-Nya. Dan ketetapan-Nya adalah sebaik-baik ketetapan....
Semangaaaaaaaaaaaaatttt!

Petuah: Rusa dan Singa

Setiap pagi di afrika, rusa bangun
tahu bahwa ia harus berlari cepat
lebih cepat daripada singa yang tercepat
atau mati dimangsa.

Suatu pagi, singa bangun
berlari mencari rusa yg terlambat
atau mati kelaparan.

Tak masalah anda rusa atau singa
ketika pagi kita harus berlari.

MERUBAH ISI DUNIA


Ketika aku masih muda dan imajinasiku sangat tinggi
Aku berfikir untuk merubah seisi dunia ini

Ketika Aku menginjak dewasa
Aku sadar , Tak mungkin Aku merubah dunia ini
Akupun mempersempit Pandanganku
Aku hanya ingin mengubah negri dan negaraku saja

Tetapi ketika Aku sudah tak muda lagi
Dan tubuh tlah lemah belum sedikitpun aku mungubah negriku ini
Akhirnya Ku putuskan untuk merubah keluarga dan orang terdekatku saja

Akan tetapi tak satupun yang berhasil aku rubah

Setelah aku mati aku sadar ,andai saja dulu...
Aku lebih dulu merubah diriku ini
Dengan begitu Aku bisa mengubah keluaargaku,orang disekitarku dan juga negri ini
Dan bukan tak mungkin akan merubah dunia ini menjadi lebih baik....

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © DreaMedia : Bingkai Harapan -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -