Cerpen: Bukan Salah Bintang-bintang
(Karya: Ma'arif Suryadi)
Aku pernah mendengar suatu pernyataan ’Tidak ada sahabat sejati di dunia ini, yang ada hanyalah kepentingan’, dan sialnya aku percaya akan hal itu. Faktanya, aku pernah punya sahabat waktu aku duduk di sekolah dasar. Enam tahun aku bersahabat dengannya, dan setelah kami lulus, tak ada satupun kabar darinya. Aku juga punya sahabat lagi sewaktu SMP, dia orang kaya. Hampir setiap hari aku mendapat traktiran darinya, begitupun dia yang selalu mendapat contekan dariku. Dan kami berpisah setelah lulus, aku tak pernag lagi mendengar kabarnya.
Kini aku SMA, dan aku sudah lulus. Hanya saja aku belum mendapat ijasah. Dan aku harus hadir ke pesta perpisahan tiga hari lagi. Tentunya, aku juga punya sahabat. Tapi kali ini agak berbeda, sahabatku ini seorang cewek. Namanya Bintang. Sama seperti namanya, dia bersinar di sekolah. Dia cantik, dia baik, dia berprestasi, dia familiar, dan dia kaya. Dan beruntungnya aku selalu digosipkan jadi pacarnya. Padahal aku tahu, dia tak pernah menganggapku lebih dari sahabat. Dia pernah bilang sendiri, kalau sampai hari ini dia sudah punya tujuh mantan kekasih. Dan dari ketujuh mantannya itu, semuanya membuat dia kecewa.
Dia juga pernah bilang kalau aku adalah cowok yang tak pernah membuatnya kecewa. Dan itu membuat aku berfikir, apakah aku cowok sejati? Tapi aku tak peduli, yang penting aku selalu bisa dekat dengannya. Kami berdua memiliki kualitas obrolan yang buruk. Kami jarang sekali membicarakan hal penting. Semua yang kami bicaran adalah hal konyol. Kami sering bedebat keren mana antara Maroon 5 atau One direction, Spiderman atau Superman, Harry Potter atau The Lord of the Rings, Doraemon atau Shincan, Afgan atau Vidi Aldiano. Suatu hari kami pernah membicarakan siapa yang lebih indah diantara bintang kami, Scorpio atau Sagitarius.
Malam itu kami berbaring di taman belakang rumah Bintang, di atas rumput yang tak aku tahu jenisnya, namun itu terasa seperti di atas karpet. Malam itu sangat indah, penuh bintang. Dan melihat berdua bintang di atas sana adalah hal yang paling aku sukai saat musim kemarau di bulan Agustus.
“Kamu tau nggak letak rasi scorpio itu sebelah mana?” Tanya Bintang padaku.
“Aku anak sosial, dan aku tidak tertarik pada astrologi, emmm atau mungkin astromoni,” jawabku seadanya.
“Padahal aku ingin cari tahu, tapi selalu saja lupa,”
“Sebagai anak sain, bukanya itu di pelajari ya?”
“Harusnya, di akhir Bab Fisika kelas tiga, namun karena tidak masuk dalam ujian, jadi tidak dipelajari. Tapi bukannya geografi juga ada tentang jagat raya?”
“Ya memang ada, tapi aku tidak tertarik, dan aku malas mengingat-ingatnya. Dan yang aku ingat itu juga ada pada pelajaran kelas 4 SD. Aku lebih tertarik pada ekonomi, dan aku shampir selalu mendapat nilai sempurna pada pelajaran itu,” jelasku.
“Oke lupakan saja. Aku hanya berpikir kalau scorpio itu rasi yang paling terkenal,”
“Dan sagitarius adalah rasi yang palin indah,” tambahku tak mau kalah.
“Tau dari mana? Dan bahkan sagitarius tidak pernah di singgung dalam buku astronomi manapun,”
“Aku sering mendengar, dan aku bangga mendengarnya. Dalam film-film romantis, sinetron, dan buku-buku fiksi. Dan tak ada satupun film, sinetron, atau buku yang bilang scorpio itu indah,” aku mulai kesal.
“Oh ya? Aku rasa aku lebih tau lebih banyak tentang scorpio daripada kamu?” ucapnya dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
“Kamu bilang lebih tau? Baik kalo begitu aku ingin Tanya? Dimana letak rasi itu, langit utara atau selatan? Kapan scorpio itu bisa terlihat, musim kemarau atau penghujan? Kemana scorpio menunjukan arah, tenggara atau timur, utara atau selatan. Atau mungkin barat? Dan taukah kamu, dari gugus bintang apa saja rasi kalajengking konyol itu terbentuk?” aku mencoba menyudutkannya.
“Aku tak yakin apakah nantinya anak social akan mengingat penjelasanku tentang scorpio?” ejeknya.
“Kalo begitu aku yang akan menjelaskan tentang sagitarius. Yang aku tau tentang sagitarius, sebuah rasi bintang yang menggambarkan tentang makhluk dalam mitos kuno yunani. Si Centaurus sang pemanah. Kau bisa bayangkan betapa indahnya centaurus itu,”
Aku mulai merasa menang.
“Hanya itu yang bisa kamu jelaskan? Aku akan balik bertanya, apa kamu tau perbedaan Centaurus, Pegasus, dan Unicorn?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya,”Pada dasarnya mereka sama, seekor kuda. Pegasus dengan sayap, Unicorn dengan satu tanduk di kepalanya, dan centaurus dengan tubuh setengan manusia. Sebagai seorang sahabat harusnya kamu tahu, betapa tertariknya aku pada dunia imaginasi seperti itu,”
Bintang tampak kesal. Ia pun lantas bangun. Aku ikut bangun dari rumput taman yang sudah tidak nyaman lagi.
“Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang sekarang,” tukas Bintang. Lalu, ia melangkangkan kakinya.
Tanpa sadar aku menarik tangannya, mencoba untuk menahannya.
“Aku tahu aku salah. Ini semua bukan salah bintang-bintang, ini salahku sendirian. Sebagai seorang cowok dan sahabatmu, seharusnya aku mengalah untukmu. Kita sering berdebat seperti ini. Kadang aku merasa lucu, kita itu bersahabat, tapi kenapa ya kita sering marahan, emmm membuat kesal satu sama lain. Dan kamu ngambek, lalu aku minta maaf. Dan kita kembali bersahabat seperti biasa,” kataku berhenti, aku mencoba memikirkan kata-kata lain untuk aku ungkapkan,”aku tidak pandai merangkai kata, aku hanya merasa aneh. Entahlah! Tapi yang selalu aku rasakan adalah… aku selalu menyesal karena membuatmu marah. Itu saja,”
Aku melepas tanganku dari tangan Bintang. Ia masih tak menoleh padaku.
“Baiklah keliatannya kamu benar-benar kesal padaku . Errrrr… aku akan memutar lewat samping rumahu… emmm jika mungkin kamu tidak ingin aku lewat pintuuu... karena harus masuk lagi ke rumahmu. “ kataku terbata-bata
Tiba-tiba Bintang membalik tubuhnya kearahku. Kemudian entah karena sebab apa dia tersenyum padaku.
“Terima kasih untuk malam ini, aku harap kita bertemu di pesta perpisahan. Dan kamu masih satu-satunya cowok yang tidak pernah membuatku kecewa. Aku setuju denganmu, ini semua bukan salah bintang-bintang,”
Dan seketika waktu terasa berhenti. Bintang memelukku untuk pertama kalinya.
***
Setelah malam itu aku sadar bahwa ‘tidak ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bisa seterusnya bersahabat’. Sebenarnya aku sudah merasakan hal yang berbeda ketika pertama kali aku kenal dengan Bintang. Hanya saja aku memilih untuk selalu bersamanya, apapun caranya. Aku tak ingin semua ini berakhir, aku ingin selalu bersamanya… yah untuk selamanya. Bahkan mala mini, malam yang dinamakan Pesta Perpisahan, tak akan pernah memisahkan kami.
Setelah acara Perpisahan selesai, aku duduk di teras berundak dekat parkiran. Aku dan Bintang janjian bertemu disini. Di dalam tadi aku tak sempat mengobrol banyak dengannya, aku harus bergabung dengan teman cowok lainnya dan begitupun dia harus bergabung teman cewek lainnya.
“Satya?” seseorang memanggil namakuku dari belakang. Lantas aku menoleh, ternyata itu Bintang.
“Duduklah! Kamu terlambat cukup lama,” protesku. Mendengar itu, Bintang pun duduk tepat di sampingku.
“Apa kita nggak dikira tukang parkir ya?”
“Mana mungkin ada tukang parking seganteng aku?” candaku.
“PD gilaaa…” serunya.
“Dan mana mungkin ada tukang parkir secantik kamu, apalagi dengan gaun cantik itu,”
“Udah pinter ngegombal ya? Tapi makasih deh!”
Aku tersenyum padanya, ia pun membalasnya.
“Selamat ya kamu jadi lulusan terbaik tahun ini. Aku sedang bicara dengan orang jenius yang sangat menggemari pelajaran Ekonomi.” Ucapnya padaku.
“Kelihatannya semua itu memang hebat. Tapi kalau aku hebat, pasti aku dulu memilih jurusan sains kan?”
“Tidak selalu seperti itu. Tapi selamat! Aku bangga jadi sahabatmu.”
“Terima kasih. Aku tak menyiapkan kalimat untuk membalas ucapanmu,” kataku sambil tersenyum padanya.”
Ia tidak membalas senyumku, keliatannya ada hal penting yang ia ingin sampaikan lagi.
“Oh iya, aku mau buat pengakuan kalau aku setuju dengan pernyataanmu malam itu. ,”
“Pernyataan yang mana. Pernyataan kalau tidak ada sahabat sejati di dunia ini, yang ada hanya kepentingan?”
“Aku juga setuju dengan itu. Tapi bukan itu. Tentang rasi bintang. Yah baru malam kemarin aku kebetulan liat drama korea, dan di situ pemainnya bilang kalau sagitarius itu yang paling indah. Walaupun itu, aku tetap yakin kalau scorpio itu yang paling terkenal. Aku bahan udah mempelajari rasi scorpio. Setelah malam itu aku langsung beli buku astrologi, eh astronomi maksudnya.”
Aku hanya tersenyum-senyum mendengarnya,
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” tanyanya keheranan.
“Kamu lucu.”
“Menghina atau…”
“Aku memuji dengan tulus.”
Aneh sekali, mendengar pujianku bukannya Bintang tersanjung, ia malah terlihat sangat sedih. Ia seperti ingin menangis. Matanya seketika berkaca-kaca.
“Apa aku salah?” tanyaku bingung.
Bintang menggeleng.
“Lalu kenapa kamu keliatan sedih?’
“Aku sedih karena kemarin aku baca majalah. Aku liat ramalan zodiak, dan disitu tertuliskan kalau sahabat terbaikku akan pergi.”
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Bintang.
“Zodiak? Kamu masih percaya dengan ramalan?”
“Terserah kamu mau percaya atau enggak. Dan beberapa kali pun kamu bilang ‘Bukan salah bintang-bintang’, aku tetap takut. Bisakah kamu merasakan itu?”
Tanpa aku sadar, aku memeluk Bintang. Aku berusaha menenangkannya.
“Aku tau, aku bisa merasakan. Aku juga takut kita berpisah. Tapi percayalah semua akan baik-baik saja. Semua tidak seburuk apa yang kamu pikirkan. Dan itu hanyalah ramalan zodiak. Itu belum tentu benar. Kamu tidak boleh percaya sepenuhnya dengan itu.” Hiburku.
“Aku hanya takut kalau aku tak bisa bahagia tanpamu. Tiga tahun kita bersahabat. Kita telah melakukan segalanya bersama. Aku hanya…”
“Tenanglah…” potong kataku,”asal kamu tahu, aku bahkan lebih takut darimu. Aku pernah kehilangan sahabat sebelumnya. Tapi nyatanya aku baik-baik saja. Aku tetap bahagia. Aku tetap bisa tersenyum, bahkan tertawa. Dan bahkan, kesendirian pun tidak menakutkan seperti yang kita kira,”
“Satya, terima kasih semuanya, aku belum pernah menemukan sahabat sebaik kamu,”
“Aku juga,” tukasku.
Kami lama berpelukan. Bahkan ia tak mau melepas pelukannya. Ia mencurahkan segala yang ia takutkan. Dan aku selalu menghibur sebisaku. Aku baru melihat ia sesedih ini. Selama kami bersama, kami selalu tertawa. Ini merupakan kebersamaan kami yang paling menyedihkan.
***
Aku tak percaya kalau acara Perpisahan malam itu menjadi waktu terakhir kalinya aku berjumpa dengan Bintang. Aku tak pernah bisa mengatakan kalau apa yang ditakutkan Bintang, apa yang ada dalam ramalan zodiak itu adalah benar. Aku akan pergi meninggalkan Bintang. Untuk sementara, tapi bukan untuk waktu yang sebentar.
Aku semakin dekat dengan impianku. Aku mendapatkan besiswa kuliah Ekonomi di Iinggris. Karena itu siang ini aku ke Bandara. Jam dua belas siang pesawatku akan berangkat. Kira-kira itu setengah jam lagi. Aku tak pernah membayangkan semua ini akan terjadi. Aku akan pergi dan meninggalkan semuanya.
Aku menarik koperku perlahan. Tempat itu tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang saja. Aku menoleh ke belakang, mencoba mengingat setiap tempat di pandanganku. Sebuah mobil Mercedes berhenti. Entah kenapa aku merasa kenal dengan mobil itu. Dan seorang keluar dari mobil itu.
Tidak! Tidak mungkin. Mana mungkin dia tahu aku di sini.
“Bintang…” kataku pelan dengan penuh keterkejutan. Tampaknya Bintang juga sama terkejutnya. Dia langkah cepat dia menghampiriku. Dia tampak marah, sangat marah.
“Biar aku jelaskan,” kataku cepat sebelum Bintang mulai bertanya padaku,”Aku dapet beasiswa kuliah ekonomi di Oxford University, dan aku harus berangkat hari ini,”
Bintang menatam tajam padaku. Dia tampak marah, oh tidak! Dia lebih dari marah, dia kecewa.
“Kamu ingin pergi dan kamu tidak ngasih tau aku. Sahabat kamu? Atau aku apa? Tidak berartikah seorang sahabat bagimu,” sesal Bintang. Ia mulai menangis.
“Aku…”
“Kamu keterlaluan,”potong Bintang.
“Yah aku keterlaluan. Tapi… aku juga punya alasan,”
“Dan kamu pikir aku mau mendengarnya?”
“Ya, kamu mau.”
“Aku tidak mau,”
“Terserah! Aku ingin bilang: malam itu, saat acara perpisahan. Aku ingin mengatakan ini, mengatakan kalau aku ingin pergi ke Inggris. Tapi semua tak sesuai rencana. Kamu malah lebih dulu sedih ketika membaca ramalan zodiac kalau sahabatmu ingin pergi. Kamu menangis, dan aku tidak tega. Dan aku lebih tidak tega kalau harus bilang ramalan zodiac itu benar. Ya aku salah. Bintang-bintang itu benar,”
Kini wajah Bintang basah air mata.
“Aku hanya bingung, kenapa semua rencana ini gagal. Kenapa kamu bisa ada disini, padahal hanya keluargaku saja yang tahu. Dan bahkan, aku suruh keluargaku merahsiakannya dari siapapun, apalagi kamu. Dan sekarang aku melihatmu menangis, itu yang paling aku takutkan dan kini terjadi,”
“Sekali lagi kamu keterlaluan. Apakah kamu tidak merasan hal berbeda, bahkan sejak kita pertama berkenalan. Apa kamu tidak pernah melihat sedikitpun perasaan yang berbeda?”
“Bintang, maafkan aku. Tapi aku harus pergi. Ini impianku. Cita-citaku dari kecil. Kamu tau kan betapa aku ingin kuliah Ekonomi, dan ini di Inggris. Tak ada satu hal pun yang boleh menghancurkan impianku,” tegasku berusaha tetap tegar.
“Tapi aku mencintaimu, dan aku ingin kamu tetap disini. Aku tak mau jauh darimu!” seru Bintang.
“Kamu apa?” aku sangat terkejut mendengarnya,”Kamu cinta padaku? Kenapa kamu berpacaran dengan cowok lain, sedangkan aku selalu ada disampingmu. Dan taukah kamu berkali-kali aku ingin bilang, tapi kamu sudah dengan orang lain,” mataku terasa pedih. Tidak! Aku tidak boleh menangis, apalagi di hadapan wanita yang aku cintai.
Dan dalam sekejab, pelukan Bintang jatuh di tubuhku. Aku merasa kedamaian yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.
“Bintang, aku Cuma ingin kamu tahu kenapa aku tak mengatakan kalau aku ingin pergi. Kenapa aku tidak bilang, sama seperti alasan aku tetap membuatmu jadi sahabat. aku tak ingin ada air mata di antara kita. Aku harus pergi.”
Aku melapas pelukan Bintang. Namun ada yang aneh, air matanya kini telah tiada. Dia malah tersenyum kepadaku.
“Kamu tidak sedih aku mau pergi?” tanyaku heran.
“Apa kamu nggak penasaran kenapa aku ada disini?” Tanya Bintang balik yang membuatku tambah heran.
“Kamu pasti tau dari mamaku kan?”
Dia menggeleng,”Aku ingin menjemput Ayahku yang baru pulang dari London,”
Aku baru ingat kalau Ayahnya Bintang bekerja di kedutaan Indonesia untuk Inggris.
“Aku masih bingung. Aku masih tak mengerti kenapa kamu yang tadinya sedih sekarang ceria?”
“Ternyata mungkin Zodiak itu salah. Semua ini bukan salah bintang-bintang. Hanya saja sang peramal yang kurang ajar. Sebenarnya malam itu aku sedih karena aku diterima kuliah di Inggris. Ayahku yang mendaftarkannya. Dan aku pikir, aku jauh dari kamu. Dan nyatanya, kamu juga mau kuliah di Inggris. Dan dua minggu lagi aku akan ke Inggris. Menyusul orang yang paling aku cinta,”
Aku hanya terdiam.
“Lalu kenapa kamu tadi nangis?”
“Itu pelajaran buat kamu karena kamu tidak jujur padaku. Hanya acting, tidak kalah hebat kan dengan Angelina Jolie?”
Aku sangat bingung, pikirku.
“Apa kamu tidak senang mendengar kabar gembira ini?”
Spontan aku langsung memeluk Bintang. Aku sangat senang, walau aku masih sangat bingung. Aku pikir, aku tak akan lagi sendirian untuk mengejar impianku. Aku akan akan bersama sahabat, mungkin bukan lagi sahabat. Kami saling jatuh cinta. jadi, kedua teoriku tidak salah. Keduanya terbuktti. Pertama, tidak ada sahabat sejati. Mungkin semua persahabatan memang di dasarkan pada kepentingan. Kepentingan untuk saling berbagi, saling melengkapi, saling memahami, saling menolong mungkin. Dan kedua, yang jelas semua orang bisa merasakan bahwa tidak ada sepasang cewek dan cowok yang bisa seterusnya jadi sahabat. aku rasa semua orang bisa membuktikan teoriku yang kedua.
***
Tag :
CERPEN
Cerpen: Lebaran Dalam Kenangan
(Karya: Ma'arif Suryadi)
Menjadi orang dewasa bukanlah keinginanku sejak dulu. Kesendirian, kesepian, dan keheningan telah menjadi teman sehari-hariku. Aku sangat membenci kehidupanku saat ini. Kehidupan menyebalkan yang mau tidak mau harus aku lalui. Aku tak pernah punya waktu untuk bersenang-senang. Mungkin aku punya waktu untuk itu, tapi aku tak pernah merasa senang. Kerena itu aku menyibukkan diriku, semua waktuku untuk bekerja.
Aku seorang penulis skenario sebuah sinetron stripping yang tayang setiap harinya. Kadang aku mual harus terus menerus berada di atas kursi, menatap layar monitor, dan meletakan jariku di atas keyboard setiap harinya. Tapi hanya itulah yang aku bisa. Aku tak punya pilihan lain. Aku tak bisa membuat sesuatu dengan sempurna kecuali pekerjaanku, menulis cerita. Berkhayal, memeras otak, mengkondisikan perasaan, ketiga itu yang bisa aku perbuat. Dan terkadang aku ingin bisa hidup layaknya cerita yang aku buat sendiri.
Ini adalah lebaran. Malam menggembirakan bagi sebagian besar orang. Itulah yang aku lihat di luar kaca mobilku. Aku bisa melihat orang-orang dengan wajah gembira, berkeliling membawa obor, petasan, kembang api, dan sebagian yang lainnya bertakbiran. Sungguh momen berharga yang harusnya aku dapatkan. Tapi tidak, aku sudah sekitar tiga tahun tidak mendapatkan momen itu. Namun entah kenapa, aku belum bisa terbiasa dengan perasaan ini. Perasaan orang dewasa yang jauh dari keluarga saat malam lebaran…
Aku ingin segera sampai ke kampung halamanku. Tapi jalanan macet. Dan sudah tiga jam lamanya mobilku hanya bergerak selambat semut. Saat mobilku tak bisa bergerak seperti ini, yang bisa kulakukan hanyalah melihat langit untuk mengusir rasa jenuh. Melihat bayangan lukisan langit dengan cahaya bulan dan kerlap-kerlip bintangnya. Berharap ada bintang jatuh untuk aku bisa membuat permohonan: aku tak ingin jadi dewasa.
Aku jadi ingat kenangan masa kecilku. Saat aku masih berumur lima, enam, atau tujuh tahun. Aku bangun saat fajar menjelang, lebih awal dari biasanya. Aku sesegera mungkin ke ruang tamu. Mencicipi aneka makanan khas lebaran: nastar,bolu, agar-agar, manisan, goreng-gorengan, dan masih banyak lainnya. Lalu aku mencoba baju baruku dan semua yang menempel di diriku adalah baru. Dan aku memamerkannya pada teman-temanku. Semua dengan wajah gembira, itulah lebaran yang tahu waktu itu.
Tentu semua itu hanya ada dalam ingatanku. Dan lebaran beberapa tahun belakangan ini amatlah berbeda. Aku harus terjebak dalam kemacetaan saat malam di malam orang-orang bersuka cita. Dan aku akan sangat kelelahan di pagi harinya, yang harusnya semua orang merayakan kemenangan. Suatu tempat dimana dulu aku berlibur setelah lebaran, kini menjadi hal yang biasa saja. Semua telah berubah ketika aku dewasa.
Ingatanku terhenti ketika suara klakson menyuruh mobilku untuk berjalan beberapa meter, dan setelah itu kembali berhenti.
“Tok tok tok…”
Suatu suara mengagetkanku. Seorang anak kecil mengetuk jendela kaca mobilku. Dari bajunya yang lusuh, dan mukanya yang memelas, aku tahu dia seorang pengemis
“Pak, minta amalnya untuk lebaran. Kasihanilah saya…” kata anak kecil pengemis itu memelas.
Aku tak sampai hati mendengarnya. Dia, mungkin lebih menderita daripada yang aku rasakan saat ini. Lantas aku membuka kaca mobilku. Mengambil uang dari saku bajuku. Uang seratus ribu rupiah aku berikan pada anak kecil itu.
“Terima kasih banyak pak, semoga bapak selamat sampai tujuan. Dan semoga Allah membalas kebaikan yang bapak berikan pada saya…”
Aku tersenyum padanya. Ia tampak senang.
“Tunggu dek!”
Anak itu tampak bungung.
Aku kembali mengambil uang seratus ribua dari sakuku. Aku berikan padanya.
“Tidak usah pak, yang tadi sudah cukup!” anak itu menolak dengan halus.
“Ambil aja, ini buat beli baju baru. Kamu pagi besok enggak usah ngemis dulu. Kamu setelah ini beli baju koko sama sarung ya! Dan paginya kamu ke masjid buat shalat Ied.”
“Makasih pak! Bapak sungguh baik. Semoga macetnya enggak lama, dan bapak bisa kumpul bareng keluarga paginya.”
“Itu yang saya harapkan,” tukasku sambil melemparkan senyum padanya.
Anak itu pergi. Sungguh sangat tak tega aku melihatnya. Dia tak seberuntung aku waktu kecil. Kenapa? Aku selalu saja mengeluh. Aku jarang berfikir kalau sebenarnya hidupku jauh lebih baik dari pada anak itu. Entahlah, setiap kisah pasti ada kepahitannya masih-masing.
Aku mungkin bukan orang miskin. Aku bisa membeli apa yang aku inginkan. Tapi tidak, aku tidak bisa membeli kebahagiaan. Mungkin saja anak tadi tak punya apa-apa, tapi dia punya kebahagiaan sendiri yang tak aku punya sekarang. Setiap sesuatu pasti ada kebaikannya. Hanya saja aku belum menemukan sisi baik dari hidupku sekarang.
***
Pukul delapan di pagi Idul Fitri. Suara petasan maupun kembang api bergerumuh dimana-mana. Orang-orang sudah keluar masjid. Tapi aku masih dalam perjalananku. Aku sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai rumah. Aku rindu dengan keluargaku setelah satu tahun tak bertemu. Aku rindu wajah bahagia mereka. Dan aku pun ingin mengunjungi tetangga-tetangga sekitar rumahku untuk bersilaturahmi. Itu seperti oase dimana aku jarang sekali bersosialisasi dengan orang beberapa tahun belakangan ini.
Aku telah sampai di kampong halamanku. Pintu gerbang terbuka, begitu juga dengan pintu rumah. Karena hari ini memang seharusnya seperti itu. Mobilku memasuki halaman depan. Aku memarkirkankan. Kemudian aku membunyikan klakson mobil, agar orang yang di dalam rumah tau aku sudah pulang.
Aku keluar mobil. Sementara itu, beberapa orang keluar dari rumah. Seoarng wanita dan anak kecilnya.
“Papa…” anak kecil itu menghampiriku. Ia langsung memelukku, dan aku sepontan membalas pelukannya.
“Wah anak papa udah gede,” kataku sambil meremas pipinya yang menggemaskan.
“Coba tebak umur Farrel udah berapa?”
“Empat tahun, dan baru masuk playgroup, bener kan?”
“Itu pasti mama ngasih tau lewat telpon.”
Aku kembali memeluk Ferrel, lalu aku menggendongnya.
Seorang wanita menghampiriku. Iya mengulurkan tangannya. Aku mebalasnya, dan iya menciup tanganku.
“Apa kabar Bunda?” sapaku padanya
“Baik Ayah,” ia membalasnya dengan lembut,”ayah masuk aja dulu, bunda udah masak yang special. Nanti kopernya biar bunda yang bawa.”
“iya pa, Bunda masak rendang kesukaan papa”
“Oh ya? Kalo begitu ayo kita masuk!”
Aku melangkahkan kakiku sambil menggendong Farrel. Dia sesekali memainkan rambur kusutku.
“Pa, kita nanti liburan kemana?”
“Ke pantai?”
“Yaaah masa ke pantai lagi,” ujarnya tampak kecewa.
“Papa janji deh, besok Farrel sama Bunda, papa ajak ke rumah papa di Jakarta. Nanti kita ke ancol, emmm ke Dufan, pasti Farrel seneng.” Hiburku.
“Dufan yang kaya di tv itu pa?”
“Yap pintar sekali anak papa!”
Aku janji, aku akan membawa keluargaku pindah ke Jakarta. Kita akan jadi keluarga utuh di sana. Dan semoga tak ada lagi yang dapat memisahkan keluarga ini.
Aku ingin hidup bersama mereka. Hidup sendiri bukanlah pilihan yang baik. Sekaya kaya apapun diriku, tanpa ada orang-orang yang aku sayangi di sisiku, semua akan percuma.
Dan aku berniat untuk tidak lagi menulis scenario sinetron, aku lebih ingin menulis scenario film. Dengan itu nantinya aku bisa lebih banyak meluangkan waktuku bersama keluargaku tercinta.
Semoga semua do’aku pada hari yang suci di kabulkan . Amiin.
Tag :
CERPEN
Cerpen: Kebahagiaan Untuk Rama
(Karya: Ma'arif Suryadi)
Tepat hari ini, Rama beulang tahun yang keenam. Dia adalah anak kecil yang malang. Ia ditinggal oleh kedua orang tuanya yang meninggal akibat kecelakaan Bus Kota saat ia berusia empat tahun. Tidak banyak kenangan yang bisa diingat oleh Rama kecil tentang kedua orang tuanya,bahkan Rama tidak ingat betul wajah kedua orang tuanya.
Rama kini tinggal bersama pamannya, Wisnu. Wisnu itu masih sangat muda, baru berumur 26 tahun. Namun sampai sekarang masih hidup sebatang kara, itulah alasan mengapa ia mengadopsi Rama. Wisnu berkerja sebagai pedagang kaki lima yang menjual empek-empek di sebuah trotoar ibukota. Ia dan Rama tinggal bersama dalam rumah kumuh yang hanya berdinding papan triplek di pinggiran ibukota. Wisnu berjualan mulai petang hingga tengah malam dan meninggalkan Rama kecil sendirian tiap malamnya.
“Rama… paman punya sesuatu nih.” Seru Wisnu sambil berjalan hati-hati. Rumah wisnu berlantai dua, dan semuanya terbuat dari triplek. Maka ia harus jalan pelan di lantai dua agar rumahnya tidak ambruk.
“Iya paman, ada apa?” jawab Rama yang tengah menonton tv using yang gambar layarnya masih hitam-putih.
Wisnu duduk, ia mengangkat Rama dan mendudukan di pangkuannya .
“Kamu tau gak ini hari apa?”
“Aku kan gak pernah tau hari paman.”
“Kan paman pernah ngajarin nama-nama hari. Ya udah deh, sekarang itu kamu Ulang Tahun. Rama udah enam tahun. Nih paman kasih coklat!” Wisnu memberikan coklat, Rama langsung menarik coklat itu.
“Yeeeeach! Asyik. Makasih paman,” Rama terlihat gembira.
“Kamu mau enggak paman ajak ikut jualan?”
“Nggak ah paman! Ntar malem Rama mau dateng k eulang tahunnya Rafi. Itu loh paman yang Rumahnya kaya istana. Pasti disana banyak makanan deh! Lagian kalo jualan pasti pulangnya malem, Rama pasti nanti ngantuk”
“Ya udah deh kalo nggak mau. Tapi jangan nakal ya di rumah Rafi,”
“Kan Rama enggak pernah nakal,” protes Rama,”Paman! Rafi itu kan seumuran sama Rama, dia udah sekolah TK kok Rama belum? Kata Rafi juga dia besok mau SD. Terus Rama kapan sekolahnya? Rama kan mau diajarin nama-nama hari, ngitung tanggal biar Rama tahu kapan Rama ulang tahun.”
Wisnu diam. Ia terkejut mendengar pernyataan keponakannya yang ingin sekolah.
“Begini Rama, sekolah TK itu enggak wajib. Rama nanti langsung masuk SD aja, kaya si David dulu. Dia juga langsung SD.” Jawab Wisnu bohong, ia hanya berusaha menghibur Rama.
“Beneran paman?” Rama kembali terlihat senang
“Iya…” jawab Wisnu sambil memeluk Rama kecil di pangkuannya.
***
Hari berikutnya, pukul setengah enam sore. Wisnu mendorong gerobaknya sambil memukul-mukul kaca gerobak dengan sendok, berharap ada satu dua pembeli yang menghampirinya. Ia melalui jalan menuju lapangan utuk menemui Rama dan menyuruhnya pulang ke Rumah. Seperti biasanya, hampir setiap sore Rama bermain sepak bola di lapangan tersebut. Namun tampaknya kali ini Rama tidak bermain bola karena ia membawa layang-layang saat pergi, sekarang sedang musim layangan.
“Raf, aku mau pulang dulu ya! Sebentar lagi pasti paman dateng,” kata Rama sambil menggulung benang layangannya.
“Yah payah! Tanggung nih. Kita kan belum adu layangan,” protes Rafi.
“Kan biasanya aku juga kalah, benang punyamu kan kan lebih mahal. Gini deh buat minta maaf, kamu mau empek-empek kan? Nanti aku maintain sama paman.”
“Oke deh lumayan! Gitu dong. Hehehe”
Rama lega mendengarnya.
“Itu paman udah datang, pasti sebentar lagi dia bilang…” tunjuk Rama.
“Rama… pulang udah sore!” Panggil Wisnu dari tepi lapangan sambil mengayunkan lengannya. Rama lantas menghampirinya.
“Paman aku bungkusin satu dong empek-empeknya!” pinta Rama.
“Tumben, bukannya kamu enggak doyan empek-empek? Pas pertama nyoba, kamu bilang itu makanan paling buruk sedunia?”
Rama memang tidak doyan empek-empek.
“Itu buat Rafi paman, kan gantian. Kemaren malem, Rama kan makan banyak banget di ulang tahunnya! Boleh kan paman?” bujuk Rama.
“Oh gitu, ya boleh lah!”
Wisnu langsung membungkus empek-empek dari panic ke palstik.
“Yang banyak ya paman!”
“Nih! Tapi abis ini langsung pulang trus mandi.” Wisnu member satu bungkus empek-empek pada Rama.
“Tenang paman. Aku ke Rafi dulu ya!” Rama lari kea rah Rafi yang sedang menggulung benang layangannya.
Sedanngkan Wisnu kembali mendorong gerobaknya.
***
Sore itu Rama tidak bermain. Ia ingin meminta sesuatu kepada Pamannya. Ia menghampiri pamannya yang sedang menata empek-empek ke dalam gerobak.
Rama langsung memeluk Pamannya dari belakang. Karena ia kecil dan pamannya jangkung, pelukannya hanya mengenai bagian pinggang pamannya. Itulah cara Rama agar permintan pada pamannya di kabulkan.
“Paman udah paham kalo Rama begini, pasti ada maunya.” Tebak Wisnu, ia terus menata empek-empek.
“Paman, malem ini jangan kerja ya!”
Wisnu kaget mendengarnya. Ia berhenti dari pekerjaannya. Ia lantas membalik tubuhnya. Dan mengangkat tubuh rama yang kecil dan meletakannya bagian papan gerobag.
“Ada apa hem?” tanyanya sambil senyum pada Rama.
“Gini paman, nanti ada paser malem. Rama kan belum pernah ke pasar malem. Rama pengen liat-liat. Lagian kan kalo malem Rama gak pernah keluar. Paman juga belum pernah ngajak Rama jalan-jalan.” Kayanya Polos.
“Enggak bisa Rama, paman harus kerja. Kalo paman nggak kerja, besok Rama mau makan apa?”
“Ya udah deh kalo paman nggak bisa, biar Rama seniri ke pasar malem gimana?”
“Kamu itu masih kecil Rama… nanti kalo kamu ilang gimana?” Kata Wisnu lembut.
“Enggak bakal paman, Rama enggak sendiri. Rama ikut sama Rafi, kan ada mama sama papanya Rafi,” elak Rama.
“RAMA! KAMU BISA DIBILANGIN ENGGAK SIH? KALO PAMAN BILANG ENGGAK BOLEH, BERARTI ENGGAK BOLEH!” Bentak Wisnu untuk pertama kalinya pada Rama kecil.
Rama melomapat turun dari papan gerobak. Ia merasa takut pada kemarahan pamannya.
“Paman enggak sayang lagi sama Rama!” Tukas Rama dan langsung lari ke dalam rumah.
“RAMA! Dengerin paman dulu!” teriaknya yang sia-sia. Sebenarnya ia ingin menjelaskan pada Rama kalau tak mungkin pergi ke pasar malem tanpa uang. Pikirnya, seorang anak kecil pasti tertari dengan apa yang ia lihat di pasar malem. Dan Wisnu sangat tak sampai hati jika nanti Rama menginginkan sesuatu disana dan ia tidak bisa memberikannya. Ia tahu, ia tak punya cukup banyak uang.
Anak kecil memang tak pernah mengerti apa yang dirasakan oleh orang dewasa
Wisnu memukul gerobaknya dengan keras sampai bergoyang. Ia sangat kesal. Ia merasa sebagai paling tak berguna di dunia. Ia bahkan tak pernah bisa memberi apapun pada Rama
***
Malam harinya, Rama terus mengurung diri di kamar. Ia sedih karena permintaan kecilnya tidak dikabulkan oleh pamannya.
Pintu kamar terbuka. Wisnu masuk. Ia melihat Rama yang meringkuk di atas kasur lantai. Ia tahu, Rama sedang kecewa padanya. Karena itu dia mejatuhkan tubuhnya di samping Rama. Ia lantas memeluk Rama erat-erat.
“Rama, maafin Paman ya!”
Rama tidak menjawab, bahkan tidak bergerak sekalipun.
“Rama tau enggak alasan kenapa Paman malem ini nggak kerja?” Wisnu menarik nafas dalam-dalam,”Paman mau ajak Rama ke pasar malem, Rama mau enggak?”
Rama spontan bangun,”Beneran paman?”
Wisnu mengangguk sambil tersenyum. Ia tahu, Rama pasti sangat senang mendengarnya.
“Kalo begitu ayo, nanti keburu tutup…” ajaknya, ia menarik-narik lengan pamannya yang masih di kasur.
Mereka berdua bergegas berangkat. Pasar malam tak jauh dari rumah. Wisnu jalan kaki. Dan Rama kecil menaiki punggung Wisnu. Rama sangat senang jika di gendong.
Sesampainya di pasar malam, Rama menaiki komedi putar. Itu untuk pertama kalinya. Dan ia sangat takut namun juga senang. Sedangkan Wisnu hanya menunggu di bagian loket. Dengan hanya satu orang yang naik, itu dapat menghemat uangnya.
Disana, Rama sangat ingin mencoba banyak permainan seperti istana balon, mobil mini, dan lain-lain. Tapi pamannya mengajaknya pulang. Jadi ia hanya berkeliling sebentar, lalu menaiki komedi putar, dan minum Pop Ice sebelum pulang.
Perjalanan pulang, sama seperti waktu berangkat. Wisnu menggendong Rama di punggungnya.
“Paman tadi nggak nyoba sih, komedi putarnya kan keren banget!”
“Paman kan bukan anak kecil lagi, nanti dimarahin sama yang punya.”
“Kapan-kapan kalo ada pasar malem lagi, kita dateng ya paman…”
“Ia paman janji.” Tukas wisnu berusaha membuat Rama senang.
Tak ada yang lebih menyenangkan daripada membahagiakan orang yang kita sayangi. Itulah kebahagian sejati menurut Wisnu sejak Rama kecil ada di hidupnya. Demi orang yang dia sayangi, dia rela melakukan apapun.
***
Pukul setengah satu dini hari. Wisnu mendorong gerobag empek-empeknya yang kini telah ludes terjual. Perjalanan pulang yang panjang baginya, namun ia telah terlatih berjalan berkilo-kilo meter jauhnya setiap harinya. Entah kenapa kali ini ada seseatu hal yang membuat langkah kakinya bergerak cepat ke rumah. Ia ingin segera sampai rumah.
Langit malam gelap kelam. Namun di salah satu sisinya terlihat merah membara. Merah membara? Itulah yang sejak tadi menjadi pertanya dalam hati Wisnu.
Perjalanan ke rumah tidak jauh lagi, kepulan asap terlihat diantara langit yang kemerahan tadi. Dan bau sesuatu yang terbakar tercium di hidung Wisnu. Dan beberapa suara teriakan histeris yang aneh mengganggu telinganya. Ia meletakkan gerobagnya begitu saja di tengah jalan. Dan ia langsung berlari kencang.
Ternyata benar dugaanya, komplek rumah miliknya tengah di lahap api yang sangat besar. Beberapa orang menangis histeris memandangi rumahnya yang terbakar. Beberapa ada yang menyiramiapi dengan seember air, dan itu tidak ada gunanya. Dan Rama…
Rama terjebak dalam kebakaran itu, pikir Wisnu. Ia pun menyusup ke kerumunan warga. Ia ingin menyelamatkan Rama.
“Rama…. Rama… Rama… ” teriak wisnu berulang-ulang
Tak ada jawaban. Beberapa orang memandanginya. Dan seseorang menahan tangannya.
“Sudah pak, ikhlaskan. Dia tak mungkin selamat.”
Wisnu dengan sekuat tenaga melepas tangannya dari orang yang menggenggamnya. Ia pun berlari ke kobaran api, melewati beberapa papan yang belum terbakar.
“Rama… kamu diamana”
Di lantai dua, pikirnya. Ia pun bergegas naik. Ada bagian Rumahnya yang belum terbakar. Mungkin ada harapan Rama masih selamat.
Wisnu masuk ke kamar. Ia meliahat Rama duduk sambil menangis.
“Panas… paman… panas paman.” Kata Rama terisak-isak dalam tangis ketakutannya
“Rama kamu akan baik-baik aja.” Wisnu langsung memeluk keponkannya dan membawanya keluar dari kobaran api tersebut.
Beberapa orang mengkhatirkan kenekadan Wisnu. Dan kini mobil pemadam kebakaran telah datang. Dan atas perintah seseorang, petugas kebakaran mengguyur rumah Wisnu terlebih dahulu. Berharap Wisnu dan keponakannya bisa selamat.
Dan tangis haru warga pun pecah seketika. Wisnu berhasil keluar dari kobaran api yang membakar rumah, kini tinggal puing-puing. Tidak hanya itu, ia berhasil membawa Rama dalam pelukannya. Rama pingsan, dia masih hidup.
Dan mobil ambulans datang, Wisnu langsung memasukkan Rama ke mobil tersebut. Ia sangat khawatir pada Rama. Ia tak bisa mengbayanhkan kalau harus kehilangan Rama, satu-satunya orang yang ia punyai sekarang. Ia selalu berdoa dalam hatinya, semoga semuanya baik-baik saja…
***
Rama berhasil selamat dari insiden kebakar tersebut. Ia bahkan tak mengalami luka bakar sedikitpun. Ia hanya menghidup banyak asap yang membuatnya jatuh pingsan. Itu membuat Wisnu sang paman sangat lega.
Setelah kebakaran tersebut, mereka tinggal di tenda pengungsian sampai ada bantuan untuk kembali membangun rumah mereka. Tapi tidak, sebulan kemudian pemerintah membawa semua warga yang rumahnya terbakar untuk tinggal di rumah susun. Rumah yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Senja itu, Wisnu mengajak keponakannya untuk mengelilingi jalanan ibukota dengan sepeda. Wisnu memboceng Rama di bagian belakang. Ia mengayuh sepedanya pelan-pelan.
“Paman, selingkunh itu apaan sih?”
Wisnu terkejut mendengar pertanyaan keponakannya.
“Kenapa kamu tanyanya begitu?”
“Abis Rama kasian liat Rafi yang sedih terus, kata dia mamanya selingkuh. Terus papanya ninggalin dia sama mamanya. Rama kan gak tau selingkung itu apa? Dan kenapa papanya Rafi ninggalin Rafi sama mamanya?”
“Paman juga enggak tau, paman kan belum nikah.” Kata wisnu bohong,”kalo nanti kamu udah gede dan udah nikah… pasti kamu tahu.”
“Kalo begitu, Rama pengen cepet-cepet gede biar bisa menghibur Rafi. Selama ini Rama kira hidup Rafi selalu bahagia, dia punya semuanya, dia kan kaya. Tapi ternyata enggak juga…”
Wisnu tersenyum.
“Rama, paman bilangin ya… Kalo bahagia itu bukan karena uang. Nyatanya Rama bahagia kan bareng paman, walau paman gak punya uang?”
Tiba-tiba sepeda berhenti.
“Kenapa paman?”
“Kayaknya rantainya putus deh. Kita tuntun ke bengkel aja yuk!”
“Tapi kan disini enggak ada bengkel. Rama males jalan.”
“Kamu tetep duduk di sepeda. Biar paman yang nuntun sendiri.”
Rama tampak senang mendengarnya. Wisnu pun menuntun sepeda itu. Ia menaikannya ke atas trotoar.
“Sekarang Rama ikhlas kok nggak sekolah, pasti paman nggak punya duit.”
“Kenapa Rama ngomong begitu? Paman pasti sekolahin Rama. Kan SD gratis. Ada wajib belajar 9 tahun.”
“Rama enggak ngerti.”
“Pokoknya bulan depan Rama bakal sekolah.”
“Asyikkk… Jadi Rama bakal ketemu temen-temen baru.”
“Tentu donk.”
Wisnu berhenti di atas sebuah jembatan.
“Lihat deh sungainya. Keren ya!” kata Wisnu.
“Ah gak keren. Aku lebih suka sama matahari merahnya. Ternyata langit merah belum tentu bahaya ya paman?”
Wisnu tersenyum. Ia paham, Rama masih ingat tentang kebakaran itu.
“Paman. Aku pengen naik gedung yang paling tinggi itu.” Rama menunjuk sebuah gedung tinggi.
“Kalo begitu ayo kita kesana!”
Wisnu mendorong sepeda sambil berlari kecil. Itu membuat Rama sangat bahagia.
Jakarta tak seburuk yang orang lain kira. Masih ada keindahan di setiap sudutnya. Asal kita mau melihatnya dengan cinta.
***
Tag :
CERPEN
Puisi: Biarin (Karya: Yudhistira Ardi Nugraha)
Kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin.
Kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin.
Kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin.
Kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin.
Habisnya, terus terang saja, aku nggak percaya sama kamu.
Tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana.
Cuma karena kamu merasa asing saja, makanya
kamu selalu bilang seperti itu.
Soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, jadi lonte?
Aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku
Sebab itu aku rampok hati kamu.
Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia ini.
Iya nggak? Kalau nggak percaya, tanya saja sama polisi
Habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada
membiarkan hidup ini berjalan
seperti kamu sadari sekarang ini
Kamu bilang hidup ini melelahkan. Aku bilang biarin
Kamu bilang itu menyakitkan.
Tag :
PUISI
Puisi: Memilih Pulang
Butuh keberanian untuk memilih pulang
Seperti aku yang menemukanmu sebagai alasan
Dari perjumpaan satu waktu
Kita menepi, untuk saling bertanya pada hati
Lalu jalanku dan jalanmu, bertemu
Pada langit yang berguncang,
Dan engkau mengambil perjanjian
Kita bangun rumah, dari takwa
Bermula dari percaya, lalu menjelma cinta
Kita menyulam mimpi,
Juga meninggikan cita
Dalam sujud-sujud panjang kita melangitkan doa
“Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya”
Tag :
PUISI
Puisi: Aku Pulang
Aku pulang
Pada tanah lapang tempat tumbuhkan bunga dan dedaunan
Semalam,
Hujan menepi memaksaku pulang
Menyisihkan aroma pagi dari tanah-tanah resah yang rindu dibasuh hujan
Aku pulang,
Basah kuyup ditepis hujan
Ada dingin yang menggigit,
Sedikit demam
Dan ngilu tertahanAku pulang,
Disirami sinar mentari pertama
Dari bukit ilalang
Pijar rona merah dan cahaya keemasan
Ada hangat,
Yang mendekap lelapAku pulang,
Setelah hijrah panjang dari kota ke kota
Aku memilih tinggal di tanah lapang
Membangun rumah, menyulam mimpi,
Melangitkan doa
Terima kasih,
Telah membuatku tinggal
Tag :
PUISI
Puisi: Pulang...
Suatu hari,
Aku menemukannya. Di sana..
Wajahku, di bola matamu
Namun musim cepat berlaluSuatu hari,
Aku menemukannya. Di sana..
Wajahnya, di bola matamu
Ya, musim begitu cepat berlaluAku bertanya-tanya
Pada bola matamu
Dimana kau simpan aku?Lain waktu
Aku menerka-nerka
Mungkin musim yang lalu hanya ilusi
Aku hanya daun gugur yang sesaat luruh di tanahmu
Tapi yang kau tunggu selamanya adalah hujan
Membasuhmu sempurnaMaka izinkan aku
Menitipkan terima kasih, pada angin
Yang membuatku jatuh pada tanahmu yang resah
Kau bagi wewangian pagi
Aku belajar ketabahan embun
Kita bersama untuk suatu waktu
Sekedar saling memahami
Ada yang Tuhan ciptakan sekedar untuk kita cintai
Bukan untuk membangun mimpiMaka izinkan aku
Menitipkanmu pada angin
Yang memanggil hujan untuk membasuhmu
SempurnaTerima kasih,
aku (pamit) pulang
Tag :
PUISI
Cerpen: Dalam Ingatan... (Based on true story)
Namaku Ma’arif Suryadi. Aku adalah salah satu orang yang paling enggak bisa ngelupain bagaimana rasanya cinta pertama. Walaupun cinta kedua, cinta ketiga, ataupun cinta keempat pernahb singgah di hatiku, namun tetap saja cinta pertama itu yang paling indah, paling sulit dilupain.
Mungkin aku termasuk orang yang beruntung karena aku mengalami cinta pertama sewaktu aku masih kecil, tepatnya kerlas 5 SD. Dan waktu itu aku masih culun dan sangat lugu serta belum tahu apa arti cinta sebenarnya. Bahkan mengucap kata ‘Love’ pun aku belum becus.
Ceritanya berawal ketika aku dan dua sahabatku tengah asyik menikmati pemandangan pematang sawah di bawah sebuah pohon besar. Pohon besar itu menjadi tempat favorit kami untuyk saling bertukar cerita satu sama lain.
Wisnu, sahabatku yang badannya paling gemuk sampai pada perkataan yang membuat kehidupan kami bertiga selanjutnya berubah.
“Kayaknya gue benar-benar ngrasain yang namanya cinta pertama. Loe semua pasti enggak tau, tadi gue di depan toilet sekolah ketemu sama Novi, kita kenalan gitu.”
“Ya elah loe ndut, enggak di kantin, enggak di kelas, dimana-mana loe cerita Novi mulu. Bosen gue dengernya. Ngayal mulu kerjaan loe.” Potong Ilham, cowok paling ganteng di kelas. Sebenernya banyak cewek yang naksir ke dia, tapi enggak tahu kenapa dia enggak pernah peduli sama sekali.
“Eh biarin! Terserah gue. Daripada loe enggak berani kan loe ndeketin cewek?” balas Wisnu tampak kesal.
“Kok loe jadi sewot? Kalo gue mau sepuluh cewek sekaligus juga bisa gue dapetin.” Ilham tak mau kalah.
“Halah! Ngibul doang loe,buktiin!” tantang Wisnu.
Aku hanya diam. Tak tahu kenapa suasana pembicaraan mereka makin panas.
“Loe nantangin gue? Nyadar dong! Mana mau sih Novi sama cowok kayak loe?”
Aku enggak tahan lagi melihat pertikaina mereka.
“Udah kali!” aku coba melerai,”buat apa sih ribut soal cewek? Enggak penting banget tau enggak?”
“Diem loe Rif! Bilang aja enggak ada cewek yang mau deket sama loe!” ucapIlham yang membuatku kesal.
“Jaga omongan loe! Rese.” Sesegera mungkin aku melangkahkan kaki meninggalkan mereka berdua. Aku memang bukianlah orang yang suka bertikai, setiap suasana seperti itu, aku selalu mengalah. Kadang aku memilih untuk diam, namun sesekali aku memilih untuk pergi.
Malam harinya, aku tak bisa tidur. Peristiwa siang itu sungguh menyita pikiranku. Aku tak tahu bagaimana esok hari ji9ika aku bertemu mereka di sekolah. Akankah kami saling menjauhi?
Benar saja dugaanku, pagi setelah itu mereka berdua tak menghampiriku untuk berangkat sekolah bersama. Aku jadi terpakasa jalana kaki ke sekolah yang lumayan jauh dari rumahku.
Langkah kaki kecilku sampai pada jalan raya yang akan menjadi awal cintaku. Waktu aku melihat seseorang cewek yang mungkin sebaya denganku tengah berdiri tak jauh dariku. Cewek itu memang tidak begitu cantik, namun menarik. Sikapnya yang aneh membuatku mengira kalu dia takut menyebrangi jalan.
Karena alasan itu, aku putuskan untuk mendekat kepadanya. Aku berhenti tepat di sampingnya. Aku coba bersandiwara, belaga biasa saja seolah tak melihatnya. Seketika ada getaran yang berbeda ketika cewek itu terus menoleh kepadaku . Getaran apakah itu?
Jalanan sepi, aku pun menyebrang jalan. Persis seperti dugaanku, cewek itu mengikuti langkahku sampai sebrang jalan. Aku masih pura-pura tak memperhatikannya, tetap pada pendirianku yang tak ingin kaalu dia sampai tahu aku sedang menarik perhatinnya.
Lantas aku kembali berjalan, dia pun berjalan dengan arah yang berlawanan denganku. Pagi itu aku tahu, dia tak satu sekolah denganku.Namun anehnya, dia berjalan di rute yang salah. Ia berjalan disebelah kanan jalan. Aneh!
***
Sesampainya di sekolah, aku tak bisa mengingat lama-lama peristiwa yang baru terjadi padaku. Tentang cewek itu yang seketika lenyap dari pikiranku. Karena... mimpi burukku semalam jadi kenyataan. Kami bertiga jadi saling berjauhan. Wisnu yang awalnya duduk sebangku denganku, kini berpindah ke barisan paling depan. Sedangkan Ilham ada di berisan belakang. Dan aku tetap di tempat dudukku semula.
Pelajaran dimulai, ada satu hal yang Wisnu lakukan saat itu; saat semua murid tengah memperhatikan penjelasan dari guru, Wisnu malah begitu asyik dengan pekerjaannya sendiri.
“Siapa Novi?”
Wisnu langsung menyeret sebuah kertas dari mejanya kebelakang.
“Bukan siapa-siapa pak!”
“Siapa Novi?” ulang guru itu dengan nada lebih tinggi.
“Anak... anak kelas empat pak!” jawab winu terbata-bata.
“Baca surat itu di depan kelas atau kelas dari sini!”
Melihat itu sebenarnya aku kasihan. Namun kali ini aku tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi hebungan persahabatan kami sedang renggang.
“Nov, jadilah cinta pertamaku! Terimalah aku jadi pacarmu!” begitulah isi surat cinta Wisnu untuk Novi yang berhasil kuingat sampai sekarang.
***
Pagi berikutnya aku bernagkat sekolah lebih awal dari biasanya. Aku tak mau kehilangan kesempatan membantu cewek kemarin untuk menyebrangi jalan. Sesampainy di jalan raya, aku terpaku. Dugaanku salah, ternyata cewek yang aku harap sudah berdiri di tempat yang sama seperti kemarin. Aku menduga, mungkin dia berangakat lebih pagi karena mau mencontek tugas sekolah.
Aku kembali bersandiwara, seolah tak mengenalinya kemarin. Namun kala itu aku tak kuasa untuk tidak menatapnya. Aku ingin tahu warna matanya. Sial! Saat aku menoleh kepadanya, dia sedang ,enoleh kepadaku. Mata kami berdua bertemu pada satu titik, titik yang baru aku kenal untuk pertama kalinya. Aku tersenyum padanya, dia lantas membalas senyumku. Manis sekali.
Jalanan yang sepi membuatku harus bersegera menyudahi tatapan itu.lantas aku menyebrangi jalan, dan seperti yang aku harapkan, ia pun mengikuti langkahku.
“Tunggu!” sapanya ketika aku hendak beranjak darinya.
“Namaku Rika, kamu siapa?” begitu katanya. Namun aku agak sok jual mahal, akupun tak menjawab pertanyaan itu dan beranjak darinya tanpa jawaban sepatah kata pun. Hanya senyum, dan aku harap dia dapat mengerti...
Pagi ketiga berlalu, dan terhitung sejak itu, hubungan persahabatan antara aku, Wisnu, dan Ilham tak kunjung membaik. Aku sangat iba tiap kali melihat pada Wisnu. Ejak peristiwa surat bodoh itu, wisnu jadi murung. Tak pernah berkata sedikitpun. Dan tanpa belas kasihan, teman sekelas – kecuali aku – selalu menertawainya. Harusnya pada saat seperti itulah sahabat sangat dibutuhkan, tapi semua berbeda...
Sedangkan Ilham, dia malah berbahagia di atas penderitaan temannya sendiri. Kini, kemanapun ia pergi selalu bersama Yuni, kakak kelas yang kabarnya sudah jadi pacar Ilham. Mungkin Ilham telah mendapatkan cinta pertamanya. Cinta telah merubah Ilham yang tadinya minder sama cewek, kini malah jadi nempel terus sama cewek.
Lalu aku, aku belum juga mendapatkan cinta pertamaku. Mungkinkah Rika akan njadi cinta pertamaku? Ah entahlah...
***
Dan sampailah pada pagi ketiga. Kala itu aku benar-benar bertingkah sangat bodoh. Belum tepat setengah enam pagi, aku sudah menunggu Rika di tepi jalan Raya seperti biasa. Setyelah setengah jam lamanya aku menunggu, Rika pun datang. Namun kali ini justru ia yang belaga seolah tak pernah melihatku. Tatapannya kosong kedepan, tak sadarkah ia kalau ada aku di sampingnya?
Jalanan pun sepi, aku menyebrangi jalan. Ada yang aneh, Rika tak mengikuti langkahku. Baru setelah aku sampai di sebrang jalan, sebuah motor lewat. Mungkin itu alasan Rika tak itu menyebrang. Bodoh sekali, kenapa aku tak melihat motor itu tadi?
Raut wajah rika, mendadak cemas, kelihatanm takut sekali. Aku jadi bingung, apakah aku harus mengulangi untuk menyebrang jalan atau aku meninggalkan dia begitu saja?
Akhirnya, aku kembali ke tepi jalan di samping Rika.
“Kamu takut nyebrang jalan?” tanyaku spontan. Rasanya aku telah salah membuat kalimat sapaan.
Rika hanya mengangguk.
“Sebelumnya... eh gak jadi.” Aku jadi gugup.
“Aku tahu, kamu pasti bakal nunggalin aku gitu aja.”
Sungguh! aku malu sekali.
“Memangnya sebelum aku bantu kamu nyebrang jalan, gimana caranya kamu bisa nyebrang?” Sial! Aku salah lagi merangkai kata. Pasti dia berpikir kalau aku terlalu percaya diri.
“Sebelumnya aku diantar ayah ke sekolah. Tapi sekarang ayah lagi tugas di luar kota.” Jelasnya.
“Jadi, kamu baru tiga hari berangkat sekolah sendirian?”
“Iya...” jawabnya lembut.
Wah, berarti aku datang di saat yang tepat. Ujarku dalam hari, senang sekali.
“Nama kamu siapa?” suaranya yang lembut itu menggema di telingaku.
“Panggil aja Arif.” Jawabku sambil tersenyum lebar.
“Kamu pasti sekolah di SDN Sukamekar 02.”
“Ya iyalah aku kan p0ake seragam identitas. Dan kamu juga pasti sekolah di SDN Babelan 01.” Sebuah sekolah favorit, gumamku.
Kami berdua tertawa kecil bersamaan.
“Aku kelas lima, kamu?” tanyaku.
“Sama,” jawabnya singkat.”Kakakku sekolah di sana juga loh! Kelas enam.”
“Siapa?” tanyaku panik mendengar kata kelas 6, aku jadi khawatir.
“Angga.”
“Siapa?” tanyaku kembali, memastika aku tidak salah dengar.
“Angga Wijaya.”
***
Malam itu aku kembali tak bisa tidur. Semua itu karena percakapan pertamaku dengan Rika. Harusnya aku senang semua pertanyaanku tentangnya terjawab; dia sekoalah di SDN Babelan 01, rumahnya di depan toko Usaha Sejahtera, dia sekolah naik getek agar cepat sampai ke sekolahnya yang jauh, ia berjalan di sebelah kanan karena ingin ke tempat pemberhentian getek, dan dia jiuga mempunya Kakak bernama Angga.
Angga, sejauh yang aku tahu dia merupakan anak yang sangat nakal, paling demen berantem, suka memelak adik kelas, paling ditakuti semua siswa, dan masih banyak hal menakutkan tentang dirinya yang membuat aku jadi tertekan. Bagaimanakah nasib cinta pertamaku pada Rika? Mungkinkah cintaku akan kandas gara-gara kakaknya itu? Pilih hidup atau mati? Jika aku menjauhi Rika maka aku akan tetap hidup, dan jika aku mendekati Rika pasti aku akan mati. Tidak... tidak! Oke, aku akan menjauhi Rika.
Keputusan untuk tidak lagi mencoba mendekati Rika udah bulat. Untuk itu, pagi berikutnya kau berangkat lebih siang. Aku tak menemui Rika ditempat biasa. Dan pagi itupun aku mengambil keputusan untuk kembali pada kenyamananku; memperbaiki hubungan dengan kedua sahabatku.
Saat di kelas, aku menyuruh Ipul – teman sebangku Wisnu – untuk pindah dari tempat duduknya. Tampaknya Wisnu mengacuhkan kehadiranku.
“Baru kali ini kita marahan lebih dari tiga hari, padahal guru ngaji kita sering bilang kalo marah sama seseorang tidak boleh lebih dari tiga hari.” Aku berusaha membujuk Wisnu untuk bicara.
“Kata siapa gue marah sama loe lebih dari tiga hari?”
Aku sedikit bingung.
“Kita kan sahabatan, tanpa perlu loe minta maaf, gue udah maafin loe kok Rif.”
“Jadi?”
“Santai Bro!” kata Wisnu sambil menepuk-nepuk punggungku.
Aku tertawa. Wisnupun tertawa. Tapi...
“Lalu gimana sama Ilham?”
“Dia menang. Gue bego banget. Haruisnya gue nyadar, gue gak ada apa-apanya dibanding Ilham. Bener kata Ilham, mana mau Novi sama gue?”
Aku diam. Rasanya aku dan Wisnu punya nasib yang sama. Cinta pertama kita sama-sama kandas.
***
Sudah lewat tiga hari aku tak bertemu dengan Rika. Akun pikir dengan tak menemuinya, aku kan lebih baik, tapi ternyata tidak. Semakin aku berusaha menjauhinya, dia semakin terasa dekat. Tapi belum tentu juga jika aku menemuinya, aku akan jadi lebih baik dari sekarang. Bisa saja aku malah bakal jadi lebih menderita.
“Mana yang namanya Arif?” tiba-tiba ada sura keras yang masuk ke kelas. Aku memastikan kalau aku tidak salah lihat. Itu... Angga.
Semua anak sekelas cari mana, mendadak mereka semua menatap kepadaku. Sial! Jahat sekali mereka. Habis riwayatku.
Angga menedekat kepadaku.
“Kamu yang namanya Arif?” Angga berkata dengahn garangnya.
Aku diam.
“Kalo ditanya jawab! Cari mati loe?”
“Iya... iya ka, aklu Arif.” Jaweabku dengan terbata-bata.
“Loe inget sama adek gue?”
“Inget kak.” Aku makin ketakutan.
“Pas bel istirahat pertama loe harus ke toilet, gue bakal nungguin loe disitu. Kalo loe sampe gak dateng, mati!” ancamnya.
Setidaknya kalimatk itu sudah berhasil buat aku jadi orang paling idiot sedunia. Dan saat bel istirahat bunyi, aku langsung bergegas pergi ke toilet.
“Bagus! Akhirnya loe dateng juga.”
Ternyata dugaanku salah. Itu lebih menyeramkan dari yang kukira. Angga membawa empat temannya. Sedangkan aku...
Angga mendekatkan tubuhnya padaku, sedanglan aku terus mundursampai badanku menempel di tembok.
“Gue tanyain sama loe, jangan macam-macam sama adek gue!”
“Ya kak!” Jawabku singkat, aku merasa tak bernafas lagi.
“Gue tanya sama loe, suka gak loe sama adek gue?”
“Suka banget.” Ups! Mampus, aku keceplosan.
“Beneeer?” tanyanya dengan mata melotot yang sangat menakutkan.
“Sumpah kak!”
“Bagus. Adek gue udah cerita semuanya tentang loe. Adek gue buta kali ya, tertarik sama cowok kaya loe.”
Aku diam. Ya Tuhan tolong aku...
“Maaf kak, gue enggak akan lagi ndeketin adek loe.”
“Bukan itu yang gue minta, bodoh! Gue minta loe nembak adek gue, atau kalo enggak... loe mati!”
Hah? Aku enggak salah denger? Batinku.
“Kok diem aja, mau mati loe?”
“Iya kak, gue bakal nembak adek loe secepatnya. Dan gue janji, gue gak akan ngecewain adek loe.”
“Semangat!”
“Ea elah, mau mati aja masih dikasih semangat.” Gumamku lirih.
“Apa loe bilang?”
“Enggak kak!”
***
Aku tak tahu harus sedih atau bahagia. Aku memang suka sama Rika tapi aku belum siap untuk mengatakannya. Bagaimana jika dia menolakku? Belum lagi jika nanati aku jadian sama dia, terus aku ngecewain dia, bisaa abis aku sama kakaknya.
“Arif...” lamunanku buyar ketika ayah memanggilku. Aku keluar rumah.
“Tar... raaa....”
“Itu sepeda buat aku, Pa?”
Kini aku punya sepeda. Berkat sepeda itu aku tak lagi harus menunggu Wisnu menghampiriku. Aku menemukan duniaku, duniaku sendiri yang baru aku kenal.
“Hai, sendirian aja nih?” kataku sesampainya di jalan raya pagi itu.
Rika menoleh kepadaku, nampaknya dia agak terkejut. Karena sepeda baruku, mungkin.
“Masih takut nyebrang?”
Ia mengangguk sambil tersenyum.
“Kemana aja kamu kemaren-kemaren?”
“Ada deh! Hehe.”
“Padahal setiap pagi aku nungguin kamu.”
“Ah gombal!” jawabku enteng.
”Sepeda baru?”
“Aku anterin ke sekolah yuk!”
“Sekolahku kan lumayan jauh, nanti kamu telat loh!”
“Naik aja dulu! Kalo belum coba kita gak akan tau.”
“Sok puitis. Haha...”
Rika pun naik ke boncengan, aku mengayuh sepeda kencang sekali.
“Kenceng banget naik sepedanya. Aku kan udah bilang, pasti kamu bakal telat.”
“Telat masuk sekolah itu enggak papa, yang aku takut itu telat buat nembak kamu.”
“Maksudnya?” Rika nampakn sangat bingung.
Pagi itu aku menyatakan perasaanku. Bukan semata-mata karena ancaman dari Angga, tapi aku benar-benar cinta padanya.
“Aku suka kamu.”
“Apa?”
“Apaaa aku gak denger!”
“Aku suka kamuuu...”
“Cantik-cantik budeg ih...”
“Nyebelin...” jawabnya manja,”aku juga suka kamu kok.”
Kalimat terakhir itu seperti sihir yang seketika menerbangkan hatiku. Aku sangat bahagia. Bahagia sekali.
***
Ternyata cinta benar membuat hari-hari kita menjadi lebih menyenangkan. Sejak aku jadian sama Rika, setiap pagi aku menghampiri Rika berangkat sekolah. Namun sejak itu pula, aku selalu terlambat masuk sekolah. Untungnya ada Wisnu yangselalu membelaku di hadapan Pak Guru, walaupun sampai sekarang Wisnu tak tahu mengapa aku selalu terlambat. Aku bahkan tidak menceritakan kepadanya kalau aku sudah mendapatkan cinta pertamaku.
Rika merupaka cewek pertama yang jalan berdua bareng aku. Rupanya dia suka sekali jajanan. Katanya dia paling suka sama duren, pantas ketika beli Es Krim dia pilih rasa duren, padahal aku paling enggak suka sama buah itu. Tapi demi dia, aku bela-belain habisin es krim itu dan sampai di rumah aku muntah-muntah sampe perut kosong dan enggak bisa muntah lagi.
Bersama Rika, aku pertama kali belajar renang, pertama kali naik getek dan komedi putar, pertama kali foto berdua, dan pertama kali beli dompet di pasar malem. Dan aku jadi punya kebiasaan baru, sering buka dompet ketika aku pengen ketemu sama Rika karena ada foto Rika di dalam dompet itu. Selain itu, aku jadi rajin bermain ke rumahnya tiap pulang sekolah. Dan sesekali Rika main ke rumahku. Hanya sekali dan dia langsung kapok. Itu karena rumahku ada di komplek perumahan yang hampir rumah dan jalan-jalan yang ada nyaris sama atau sepadan. Rika hampir nyasar gitu.
Hari-hariku aku jalani bersama Rika. Aku sampai lupa kalau aku masih punya dua sahabat; Wisnu yang selalu aku cuekin dan Ilham yang semakin menjauh dariku. Hubunganku sama Rika baik-baik saja, sampai suatu pertanda bahaya datang...
“Rif, kamu sering ya ke pohon besar ini?”
“Dulu tempat ini adalah tempat favoritku dan sahabatku.”
Aku mendadak ingat pada Wisnu dan Ilham. Sedang apa ya mereka sekarang?
“Dua sahabat yang sering kamu ceritakan itu?”
Aku mengangguk lemah. Aku rindu pada mereka. Sungguh sangat rindu.
“Udah jadi gambarnya?” Rika berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tahu, dia tak ingin membuatku larut dalam kesedihan.
“Bentar lagi ya...”
“Kapan-kapan ajarin aku nggambar yang bagus ya!”
“Iyaaa...” jawabku sekenanya.”Liat deh!” aku memperlihatkan gambaranku pada Rika. Itu adalah gambaran sosok Rika yang sedang duduk di bawah pohon, persisi seperti saat itu.
“Cantik bangeeet...” nampaknya dia senang.”Tapi sayang, nggak bisa kamu cium.” Candanya.
“Kamu juga enggak bisa nyium aku.” Candaku balik.
Aku terkekeh. Namun tiba-tiba kurasakan sebuah bibir mencium pipiku. Itu ciuman Rika untukku. Dunia seolah berhenti seketika. Hanya aku dan dentingan romantis piano khayalanku.
Lamunanku pecah! Seketika suara petir menggema di telingaku. Kami berdua memutuskan untuk pulang. Aku lari sekencang-kencangnya menembus hujan yang tiba-tiba datang dengan derasnya. Aku mendekap gambaran tadi erat-erat, seolah aku takut kehilangannya.
Sampailah aku di rumah. Aku begitu sedih ketika kulihat gambaranku sudah luntur terkena air hujan. Aku takut... takut sekali. Firasat buruk merasukiku. Dan...
“Mama, liat deh dompetnya Arif! Foto siapa coba?” suara kakak perempuanku di ruang keluarga. Aku yang baru saja berganti pakaian, langsung menghampiri asal suara itu. Aku terlambat. Ketika aku sampai, aku melihat wajah ibuku yang tak biasa. Dia marah... marah sekali. Dan foto itu sudah terobek di atas lantai.
Hari itu aku menangis tiada henti. Malamnya aku mimpi buruk. Paginya aku tidak berangkat sekolah. Tak keluar dari kamar sama sekali. Ketika ayah bertanya, ibu hanya menjawab,”Aku juga enggak tahu kenapa Arif menangis terus.” Dan ketika Wisnu ingin menjengukku, ibu berkata,Aarif lagi enggak pengen ketemu siapa-siapa, besok aja ya njenguknya!”
Sampai tiga hari aku masih menangis. Aku berhenti menengis di hari keempat, ketikab juga ikut menangis.
“Arif, maafin mama yaaa...”
Sejak saat itu aku memutuskan hubunganku dengan cinta pertamaku, Rika. Namun dia mempertahankanku menjedi seorang sahabat. Itu semua karena dia berbeda, dia lain dari yang lain. Aku tahu, aku tak tak pernah salah untuk mencintainya.
Waktu terus berjalan. Wisnu tak pernah sekalipun mendapatkan Novi. Dan Ilham tak lagi bersama Yuni. Kita bertiga kembali jadi sahabat. Peristiwa perpisahan sementara waktu itu menjadi pelajaran bagi kami, kami jadi semakin akrab dan terbuka satu sama lain. Dan pohon besar itu ditebang untuk perluasan area perumahan.
Aku terus bertanya, apakah orang sepertiku bisa mendapatkan cinta sejati? Aku akan terus mencari jawabannya...
T A M A T
Tag :
CERPEN
Balasan dari Fatin Shidqia
Semua orang pasti punya idola kan? Setiap yang punya idola, pasti menginginkan untuk bertemu atau hanya sekedar bercakap-cakap dengan idolanya itu. Waaah pasti asyik banget jika bisa ketemu dengan idola kita.
Namun, berkat adanya social media semacam twitter, kita jadi lebih dekat dengan idola kita. Dan kalo bicara tentang twitter, pastinya ada rasa dalam hati kita untuk di follback atau sekedar di mention oleh idola kita.
Dan… ajaibnya, aku penggila berat @FatinSL, dan aku merupakan foloower twitternya. Nah! hampir tiap hari, aku sempatkan untuk menyapa @FatinSL dan berharap dia membalasnya. Rupanya, usaha ku itu tidak sia-sia, sudah dua kali @FatinSL membalas mention saya
Tag :
Just_share









+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)
+of+Setahun2014.jpg)

